contoh review jurnal

Review Jurnal Penelitian/Skripsi

HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN

PRESTASI BELAJAR PADA SISWA KELAS II

SMU LAB SCHOOL JAKARTA TIMUR

üVariabel Psikologi : Kecerdasan Emosional, Prestasi Belajar

üAnalisis

ΩPendahuluan

¯Latar Belakang

Dalam proses belajar dibutuhkan kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional. IQ tidak dapat berfungsi dengan baik tanpa partisipasi penghayatan emosional terhadap mata pelajaran yang disampaikan di sekolah. Namun biasanya kedua inteligensi itu saling melengkapi. Keseimbangan antara IQ dan EQ merupakan kunci keberhasilan belajar siswa di sekolah (Goleman dalam Wahyuningsih, 2004).

Wahyuningsih (2004) mangemukakan bahwa individu yang memiliki IQ rendah dan mengalami keterbelakangan mental akan mengalami kesulitan, bahkan mungkin tidak mampu mengikuti pendidikan formal yang seharusnya sesuai dengan usia mereka, walaupun tidak sedikit orang dengan IQ tinggi berprestasi rendah, dan ada banyak orang dengan IQ sedang yang dapat mengungguli prestasi belajar orang dengan IQ tinggi, sehingga IQ tidak selalu dapat memperkirakan prestasi belajar seseorang.

Menurut Goleman (dalam Wahyuningsih, 2004), khusus pada orang-orang yang hanya memiliki kecerdasan akademis tinggi, cenderung memiliki rasa gelisah yang tidak beralasan, terlalu kritis, rewel, cenderung menarik diri, terkesan dingin dan cenderung sulit mengekspresikan kekesalan dan kemarahannya secara tepat, bila didukung dengan rendahnya taraf kecerdasan emosionalnya, maka orang-orang seperti ini sering menjadi sumber masalah.

Karena pentingnya kecerdasan emosional pada diri siswa sebagai salah satu faktor untuk meraih prestasi akademik, maka peneliti tertarik untuk meneliti : ”Hubungan antara Kecerdasan Emosional dengan Prestasi Belajar pada Siswa Kelas II SMU Lab SchoolJakarta Timur”.

¯Rumusan masalah dan pokok-pokok bahasan

Pada penelitian ini yang menjadi pokok-pokok bahasannya adalah prestasi belajar dan kecerdasan emosional.

¯Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar pada siswa kelas II SMU Lab School Jakarta Timur.

¯Manfaat Penelitian

ªPenelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi psikologi pendidikan dan memperkaya hasil penelitian yang telah ada dan dapat memberi gambaran mengenai hubungan kecerdasan emosional dengan prestasi belajar.

ªHasil penelitian ini diharapkan dapat membantu memberikan informasi khususnya kepada para orang tua, konselor sekolah dan guru dalam upaya membimbing dan memotivasi siswa remaja untuk menggali kecerdasan emosional yang dimilikinya.

ΩTinjauan Pustaka

¯Prestasi belajar

ªPengertian belajar

Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan siswa untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, secara sengaja, disadari dan perubahan tersebut relatif menetap serta membawa pengaruh dan manfaat yang positif bagi siswa dalam berinteraksi dengan lingkungannya (Wahyuningsih, 2004).

ªPengertian prestasi belajar

Prestasi belajar merupakanhasil usaha belajar yang dicapai seorang siswa berupa suatu kecakapan dari kegiatan belajar bidang akademik di sekolah pada jangka waktu tertentu yang dicatat pada setiap akhir semester di dalam buki laporan yang disebut rapor (Wahyuningsih, 2004).

ªFaktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar

Menurut Sumadi Suryabrata dan Shertzer dan Stone (dalam Wahyningsih, 2004),secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dan prestasi belajar dapat digolongkan menjadi dua bagian, yaitu faktor internal dan faktor eksternal:

ØFaktor internal

Merupakan faktor yang berasal dari dalam diri siswa yang dapat mempengaruhi prestasi belajar. Faktor ini dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu :

ÀFaktor fisiologis

Dalam hal ini, faktor fisiologis yang dimaksud adalah faktor yang berhubungan dengan kesehatan dan pancaindera. Seperti : kesehatan badan, berfungsinya pancaindera.

ÀFaktor psikologis

Ada banyak faktor psikologis yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa yaitu : intelegensi, sikap siswa yang positif, motivasi.

ØFaktor eksternal

Selain faktor-faktor yang ada dalam diri siswa, ada hal-hal lain diluar diri yang dapat mempengaruhi prestasi belajar yang akan diraih, antara lain :

ÀFaktor lingkungan keluarga, yang meliputi sosial ekonomi keluarga, pendidikan orang tua, perhatian orang tua dan suasana hubungan antara anggota keluarga.

ÀFaktor lingkungan sekolah, yang meliputi sarana dan prasarana sekolah, kompetensi guru dan siswa, kurikulum dan metode mengajar.

ÀFaktor lingkungan masyarakat, yang meliputi sosial budaya, partisipasi terhadap pendidikan.

ªPengukuran prestasi belajar

Pengukuran prestasi belajar bidang akademik dicatat dalam sebuah buku laporan yang disebut rapor, dengan adanya rapor maka akan memudahkan guru dalam mengadakan seleksi terhadap siswa (memilih siswa yang akan diterima di sekolah, memilih siswa untuk dapat naik kelas, memilih siswa yang seharusnya dapat beasiswa), mengetahui kelemahan dan kelebihan siswa, menempatkan dan mengembangkan bakat dan minat siswa, mengetahui apakah program pendidikan yang telah diterapkan berhasil atau tidak pada siswa tersebut.

¯Kecerdasan emosional

ªPengertian emosi

Emosi adalah suatu perasaan (afek) yang mendorong individu untuk merespon atau bertingkah laku terhadap stimulus, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar dirinya (Wahyuningsih, 2004).

ªPengertian kecerdasan emosional

Kecerdasan emosional adalah kemampuan siswa untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi diri, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain (Wahyuningsih, 2004).

ªFaktor kecerdasan emosional

Dalam penetian yang dilakukan Goleman (dalam Wahyuningsih, 2004) ada beberapa faktor kecerdasan emosional yaitu mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri, mengenali emosi orang lain, dan membina hubungan dengan orang lain.

¯Keterikatan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar pada siswa SMU

Banyak usaha yang dilakukan oleh para siswa untuk meraih prestasi belajar agar menjadi yang terbaik seperti mengikuti bimbingan belajar. Usaha semacam itu jelas positif, namun masih ada faktor lain yang tidak kalah pentingnya dalam mencapai keberhasilan selain kecerdasan ataupun kecakapan intelektual, faktor tersebut adalah kecerdasan emosional.Karena kecerdasan intelektual saja tidak memberikan persiapan bagi individu untuk menghadapi gejolak, kesempatan ataupun kesulitan-kesulitan dan kehidupan. Dengan kecerdasan emosional, individu mampu mengetahui dan menanggapi perasaan mereka sendiri dengan baik dan mampu membaca dan menghadapi perasaan-perasaan orang lain dengan efektif. Individu dengan keterampilan emosional yang berkembang baik berarti kemungkinan besar ia akan berhasil dalam kehidupan dan memiliki motivasi untuk berprestasi. Sedangkan individu yang tidak dapat menahan kendali atas kehidupan emosionalnya akan mengalami pertarungan batin yang merusak kemampuannya untuk memusatkan perhatian pada tugas-tugasnya dan memiliki pikiran yang jernih.

Oleh sebab itu, kecerdasan emosional merupakan salah satu faktor yang penting yang seharusnya dimiliki oleh siswa yang memiliki kebutuhan untuk meraih prestasi belajar yang lebih baik di sekolah.

¯Hipotesis

Hipotesis penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

ªHipotesis alternatif (Ha) : “Ada hubungan antara kecerdasan emosional dengan Prestasi belajar”.

ªHipotesis nihil (Ho) : “Tidak ada hubungan antara kecerdasan emosional dengan Prestasi belajar”.

ΩMetode Penelitian

¯Identifikasi variabel penelitian

Berdasarkan landasan teori yang ada serta rumusan hipotesis penelitian maka yang menjadi variabel dalam penelitian ini adalah :

ªVariabel bebas : Kecerdasan Emosional.

ªVariabel terikat : Prestasi Belajar.

¯Definisi Operasional

ªPrestasi belajar adalah hasil belajar dari suatu aktivitas belajar yang dilakukan berdasarkan pengukuran dan penilaian terhadap hasil kegiatan belajar dalam bidang akademik yang diwujudkan berupa angka-angka dalam raport. Pada penelitian ini menggunakan nilai raport kelas 2 semester 1.

ªKecerdasan emosional adalah kemampuanseseorang untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain.

¯Populasi dan metode pengambilan sampel

ªPopulasi

Menurut Sutrisno Hadi (dalam Wahyuningsih, 2004) populasi adalah seluruh penduduk atau individu yang paling sedikit mempunyai satu sifat yang sama. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas II SMU Lab School Jakarta Timur yang berusia antara 16-17 tahun. Berdasarkan data yang diperoleh dari pihak sekolah, jumlah populasi kelas II SMU Lab School Jakarta Timur sebanyak 240 orang.

ªMetode Pengambilan Sampel

Mengacu pada tabel Morgan maka diperoleh jumlah sampel sebesar 148 orang. Adapun metode pengambilan sampel yang dipakai pada penelitian ini adalah menggunakan teknik proporsional random sampling. Menurut Sutrisno Hadi (dalam Wahyuningsih, 2004) alasan penulis menggunakan random sampling ini adalah memberikan peluang yang sama bagi setiap anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Selain hal tersebut, Sutrisno Hadi (dalam Wahyuningsih, 2004) mengatakan suatu cara disebut random apabila peneliti tidak memilih-milih individu yang akan ditugaskan untuk menjadi sampel penelitian. Teknik random sampling yang dipergunakan adalah dengan cara undian. Langkah pertama adalah dengan memberi nomor urut pada masing-masing sampel, setelah membuat nomor yang dimasukkan kedalam gelas yang berlubang kemudian diambil sebanyak 148 kali. Nomor yang keluar dipergunakan sebagai sampel penelitian. Sedangkan yang dimaksud dengan proporsional adalah dimana tiap-tiap sub populasi mendapat bagian atau kesempatan yang sama untuk menjadi sampel dalam penelitian.

Menurut M. Nasir (dalam Wahyuningsih, 2004), untuk prosedur pengambilan sampel dengan metode proporsional random sampling dipergunakan rumus sebagai berikut :

ni =

Keterangan : ni : Jumlah sampel per sub populasi

Ni : Total sub populasi

N: Total populasi

n: Besarnya sample

Berdasarkan kriteria sampel di atas maka diperoleh distribusi sampling sebagai berikut :

Tabel 1
Distribusi sampling

Kelas

2A

2B

2C

2D

2E

2F

Jumlah

Populasi

40

42

40

38

42

38

240

Sampel

25

26

25

23

26

23

148

¯Metode pengambilan data

Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah dengan menggunakan metode skala, yaitu suatu metode pengambilan data di mana data-data yang diperlukan dalam penelitian diperoleh melalui pernyataan atau pertanyaan tertulis yang diajukan responden mengenai suatu hal yang disajikan dalam bentuk suatu daftar pertanyaan (Koentjaraningrat dalam Wahyuningsih, 2004).

Dalam penelitian ini penulis menggunakan skala kecerdasan emosional dan metode dokumentasi.

ªSkala kecerdasan emosional

Skala kecerdasan emosional terdiri dari aspek mengenali emosi diri, mengelola emosi diri, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati), bekerjasama dengan orang lain (Goleman, 2002 : 57) yang berguna untuk mengukur sejauhmana kecerdasan emosional dipahami siswa kelas II SMU Lab SchoolJakarta Timur. Penyusunan alat ukur ini untuk lebih jelasnya dijabarkan dalam bentuk Blue Print pada tabel berikut ini :

Tabel 2
Blue print Skala kecerdasan Emosional

No

Faktor

Indikator

Nomor Item

jumlah

Favorable

Unfavorable

1.

Mengenali Emosi Diri

a.Mengenali dan memahami emosi diri sendiri

1,14,21,25,39

6,45,55,65,67

10

b.Memahami penyebab timbulnya emosi

2,3,38,46,72

28,68,77,83,94

10

2.

Mengelola Emosi

a)Mengendalikan

Emosi

15,22,34,40,51

7,56,62,66,78

10

b)Mengekspresikan emosi dengan tepat

4,8,16,47,84

29,69,73,79, 89

10

3

Memotivasi diri sendiri

a.Optimis

5,17,41,87,90

35,57,61,95,97

10

b.Dorongan berprestasi

9,18,58,74,80

26,30,42,48,70

10

4

Mengenali Emosi Orang lain

a.Peka terhadap perasaan orang lain

10,27,31,52,81

19,36,63,85,91

10

b.Mendengarkan masalah orang lain

59,75,92,96,98

11,23,43,49,100

10

5

Membina Hubungan

a.Dapat bekerja sama

32,53,71,76,88

12,20,37,93,99

10

b.Dapat berkomunikasi.

13,24,60,64,86

33,44,50,54,82

10

TOTAL

100

Skala kecerdasan emosional disusun dengan menggunakan Skala Likert yang dimodifikasi yang terdiri dari 4 alternatif jawaban,dengan alasan :

ªKategori indecisided, yaitu mempunyai arti ganda, bisa juga diartikan netral atauragu-ragu,

ªDengan tersedianya jawaban di tengah, menimbulkan kecenderungan jawaban di tengah (central tendency effect),

ªMaksud jawaban dengan empat tingkat kategori untuk melihat kecenderungan pendapat responden kearah tidak sesuai, sehingga dapat mengurangi data penelitian yang hilang (Sutrisno Hadi dalam Wahyuningsih, 2004).

Sistem penilaian skala dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

ªItem Favorable : sangat setuju (4), , setuju (3), tidak setuju (2),sangat tidaksetuju (1)

ªItem Unfavorable : sangat setuju (1), setuju (2), tidak setuju (3), sangat tidak setuju (4).

ªMetode Dokumentasi

Teknik pengumpulan data terhadap prestasi belajar ini adalah dengan mengambil data yang sudah tersedia, yaitu nilai IP (indeks prestasi) pada semester satu sebagai subyek penelitian yang merupakan hasil penilaian oleh pihak akademis. Data dari prestasi belajar ini dikumpulkan dengan cara melihat hasil rapor semester I dari seluruh subyek penelitian. Mata pelajaran kelas II yaitu : Pendidikan Agama PPKN, Bahasa dan Sastra Indonesia., Sejarah Nasional dan Sejarah Umum, Bahasa Inggris, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Ekonomi, Sosiologi dan Geografi.

Penilaian prestasi belajar tersebut merupakan hasil evaluasi dari suatu proses belajar formal yang dinyatakan dalam bentuk kuantitatif (angka) yang terdiri antara 1 sampai 10. Hasil ini dapat dilihat dari nilai rata-rata raport siswa yang diberikan oleh pihak guru dalam setiap masa akhir tertentu (6 bulan) untuk sekolah lanjutan.

¯Metode Analisis Instrumen

Suatu alat ukur dapat dinyatakan sebagai alat ukur yang baik dan mampu memberikan informasi yang jelas dan akurat apabila telah memenuhi beberapa kriteria yang telah ditentukan oleh para ahli psikometri, yaitu kriteria valid dan reliabel. Oleh karena itu agar kesimpulan tidak keliru dan tidak memberikan gambaran yang jauh berbeda dari keadaan yang sebenarnya diperlukan uji validitas dan reliabilitas dari alat ukur yang digunakan dalam penelitian.

ªValiditas

Menurut Sutrisno Hadi (dalam Wahyuningsih, 2004) Validitas adalah seberapa jauh alat ukur dapat mengungkap dengan benar gejala atau sebagian gejala yang hendak diukur, artinya tes tersebut mengukur apa yang seharusnya diukur. Suatu alat ukur dapat dikatakan mempunyai validitas tinggi apabila alat ukur tersebut menjalankan fungsi ukurnya atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut.

ØUji validitas item

Uji validitas item yaitu pengujian terhadap kualitas item-itemnya yang bertujuan untuk memilih item-item yang benar-benar telah selaras dan sesuai dengan faktor yang ingin diselidiki. Cara perhitungan uji coba validitas item yaitu dengan cara mengorelasikan skor tiap item dengan skor total item.

ØUji korelasi antar faktor

Uji korelasi antar faktor yaitu pengujian antar faktor dengan konstrak yang bertujuan untuk membuktikan bahwa setiap faktor dalam instrumen Skala Kecerdasan Emosional telah benar-benar mengungkap konstrak yang didefinisikan. Adapun cara perhitungan uji validitas faktor adalah dengan mengorelasikan skor tiap faktor dengan skor total faktor item-item yang valid.

Untuk menghitung analisis item dan korelasi antar faktor digunakan rumus koefisien korelasi product moment dan perhitungannya dibantu dengan program SPSS 11.01 for windows.

Rumus :

rxy

Keterangan :

rxy= koefisien korelasi variabel x dengan variabel y.

xy= jumlah hasil perkalian antara variabel x dengan variabel y.

x= jumlah nilai setiap item.

y= jumlah nilai konstan.

N= jumlah subyek penelitian.

ªReliabilitas

Reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya, maksudnya apabila dalam beberapa pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok yang sama diperoleh hasil yang relatif sama ( Syaifuddin Azwar dalam Wahyuningsih, 2004). Dalam penelitian ini, uji reliabilitas dilakukan dengan menggunakan tekhnik Formula Alpha Cronbach dan dengan menggunakan program SPSS 11.01 for windows.

Rumus :

α =

Keterangan :

α=koefisien reliabilitas alpha

k=jumlah item

Sj=varians responden untuk item I

Sx =jumlah varians skor total

ΩLaporan Pelaksanaan Penelitian

¯Orientasi kancah penelitian

ªSejarah singkat SMU Lab School Rawamangun Jakarta Timur

Gedung SMU Lab School terletak di Jl. Pemuda Kompleks UNJ, Rawamangun Jakarta Timur dan berdiri sejak tahun 1968 sesuai SK Direktur Jenderal Perguruan Tinggi No.111 tanggal 20 november 1968 dengan nama Laboratory School yang terdiri dari SMP, SMA dan SPG. Kemudian pada tahun 1969 bergabunglah TK dan SD dari Yayasan Putra Sejahtera ke Lab School. Pada tahun 1974 Lab School mengemban tugas sebagai tempat pelaksanaan Proyek Keterampilan (Proyek TPK) dari Departemen P dan K yang disebut juga Comprehensive School dan sejak tahun 1974 SPG tidak lagi menerima siswa baru. Tahun 1974, Lab School dilanjutkan/ditingkatkan menjadi Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) yang merupakan salah satu dari 8 proyek yang sama yang bernaung di bawah 8 IKIP di seluruh Indonesia, di bawah koordinasi Balitbang Depdikbud.

Pada tahun 1986, status sekolah PPSP sebagai proyek Departemen P dan K berakhir; selanjutnya oleh Dep. P dan K pengelolaan sekolah-sekolah tersebut diserahkan kepada Kanwil Depdikbud setempat. Sebagai kelanjutan pada tahun 1986, sesuai SK Menteri P dan K RI No.027/U/1986, tanggal 21 Januari 1986, diadakan serah terima pengelolaan sekolah-sekolah eks PPSP IKIP Jakarta (khusus SD, SLTP dan SMU) dari Rektor IKIP Jakarta kepada kepala Kanwil Depdikbud DKI Jakarta dan sesuai SK Menteri P dan K RI No. 0707/0/1086, 0708/0/1986 dan 0709/0/1986 masing-masing tertanggal 10 oktober 1986 berganti nama menjadi SDN Komplek IKIP Jakarta, SLTP 236, dan SMA 81. Adapun TK eks Sekolah Laboratorium Kependidikan IKIP Jakarta tetap berstatus sebagai sekolah swasta, dengan nama TK IKIP Jakarta. Pada tahun ajaran 1992/1993, sesuai SK Dirjen Dikdasmen No. 2689/C/I/1991, SLTP 236 dan SMA 81 memperoleh lokasi baru masing-masing di daerah Cakung dan daerah Kalimalang Cipinang Melayu.

Sesuai himbauan Kanwil Depdikbud DKI Jakarta, mulai tahun ajaran 1992/1993 Yayasan Pembina IKIP Jakarta membuka SLTP dan SMU Lab School Jakarta sesuai SK Kanwil P dan K DKI No. Kep. 854 P/10I.A1/I/93 DAN No. Kep. 853 A/10I/A1/I93 masing-masing tertanggal 15 Maret 1993. SMU Lab School Jakarta pada saat ini merupakan salah satu sekolah pioneer untuk kelas akselerasi (percepatan), sehingga pendidikan SMU dapat dipersingkat menjadi 2 tahun.

SMU Lab School memiliki empat kelompok kelas, yaitu : kelas I terdiri dari 6 kelas, kelas II terdiri dari 6 kelas dan kelas III terdiri dari 7 kelas; 3 kelas jurusan IPA, 3 kelas jurusan IPS dan 1 kelas Jurusan Bahasa. Dalam penelitian ini sampel yang digunakan adalah murid kelas II, yang berjumlah 240 orang. Materi yang diajarkan berdasarkan kurikulum Depdikbud dengan waktu belajar dari jam 07.00 hingga 15.30 WIB, dari hari Senin hingga Jum’at.. SMU Lab School diperkuat dengan 60 orang guru pengajar, 3 orang guru BP, serta 20 orang administrasi, 15 staff kebersihan dan 6 orang satpam.

Fasilitas yang dimiliki selain 20 ruang kelas, juga terdapat 1 perpustakaan, 5 laboratorium (laboratorium bahasa, kimia, fisika, biologi dan komputer), 1 balai kesehatan, 1 ruang audiovisual, 1 ruang pertemuan, 2 lapangan olahraga (indoor dan out door), mesjid, ruang OSIS, dan ruang bimbingan dan konseling. Ekstrakurikuler yang ada berjumlah 28 kegiatan yang dibagi menjadi empat unit kegiatan, yaitu unit kegiatan keilmuan, unit kegiatan keterampilan, unit kegiatan olah raga, dan unit kegiatan kesenian.

ªPersiapan penelitian

Sebelum peneliti mengambil data, ada beberapa persiapan yang dilakukan yaitu :

ØPengurusan surat permohonan izin pengambilan data dari fakultas untuk melaksanakan penelitian di SMU Lab School Jakarta Timur

ØMenghubungi Kepala Sekolah SMU Lab School Jakarta Timur untuk menjajaki kemungkinan pelaksanaan penelitian dengan membawa surat pengantar dari fakultas dan contah kuesioner yang akan digunakan dalam penelitian. Kemudian menemui koordinator BK yang diberi wewenang oleh Kepala Sekolah untuk memantau dan mengatur kegiatan penelitian ini.

ØMendiskusikan dengan guru BK mengenai waktu yang tepat dan tata cara pelaksanaan penelitian.

Berdasarkan surat pengantar dari fakultas Psikologi UPI Y.A.I Jakarta dengan Nomor 185/D/Fak.Psi UPI Y.A.I/IV/2003 yang ditujukan kepada kepala sekolah SMU Lab School Jakarta Timur, maka penulis bertemu dengan kepalasekolah agar diijinkan untuk melakukan penelitian di sekolah tersebut. Kepala sekolah SMU Lab School Jakarta Timur memberi ijin dengan menunjuk wakil kepala sekolah bidang akademik sebagai pembimbing dalam penelitian ini. Kemudian Wakil kepala sekolah menunjuk seorang koordinator BK untuk membantu dalam pelaksaan penelitian.

¯Uji coba instrumen penelitian

ªUji Coba

Sebelum digunakan pada subjek penelitian yang sebenarnya, alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini diuji cobakan terlebih dahulu. Mengenai perlunya uji coba, Sutrisno Hadi (dalam Wahyuningsih, 2004) menjelaskan tujuan diadakannya uji coba alat ukur adalah :

ØUntuk memperoleh keyakinan tentang alat ukur

ØUntuk menentukan alokasi waktu yang paling layak

ØUntuk menemukan kelemahan-kelemahan dalam petunjuk atau administrasi tes

Selain itu. tujuan dari uji coba atau try out adalah untuk menyeleksi item-item manakah yang valid dan reliable agar dapat digunakan dalam penelitian. Uji coba dilaksanakan tanggal 25 April 2003 dengan menggunakan sample sebanyak 50 siswa kelas II SMU Lab School Jakarta Timur.

Data yang telah diperoleh pada saat uji coba kemudian dianalisis untuk mengetahui kualitas dari alat ukur tersebut. Untuk perhitungan analisis skala kecerdasan emosional digunakan bantuan komputer dengan program SPSS versi 11.01 for windows.

ªAnalisis validitas instrumen

Uji validitas dilakukan untuk mengetahui apakah suatu skala psikologi mampu menghasilkan data yang akurat, artinya apakah item-item yang dibuat telah benar-benar mengungkap faktor yang ingin diselidiki. Uji validitas skala kecerdasan emosional dihitung dengan menggunakan rumus Korelasi Product Moment dari Pearson. Dari hasil korelasi antar skor-skor item dengan skor total, maka diperoleh nilai korelasi pada skala kecerdasan emosional berkisar antara 0,320-0,720 dan p berkisar antara 0,000 – 0,008. Berdasarkan pada taraf signifikan 0,05 maka diperoleh 15 item gugur dan 85 item valid dari 100 item pada skala kecerdasan emosional. Rincian setelah dilakukan uji coba yaitu :

Tabel 3
Distribusi Penyebaran Item Valid dan Gugur Skala Kecerdasan Emosional

No

Faktor

Indikator

Nomor Item

jumlah

Favorable

Unfavorable

1.

Mengenali Emosi Diri

a.Mengenali dan memahami emosi diri sendiri

1*,14,21*,25,39

6,45,55,65,67

8

b.Memahami penyebab timbulnya emosi

2,3,38*,46*,72

28,68,77,83,94

8

2.

Mengelola Emosi

a.Mengendalikan

emosi

15,22,34,40,51*

7,56,62,66,78*

8

b.Mengekspresikan emosi dengan tepat

4,8,16,47*,84*

29,69,73,79,89*

7

3

Memotivasi diri sendiri

a.Optimis

5,17,41,87,90

35,57,61,95,97

10

b.Dorongan berprestasi

9,18,58,74*,80

26,30,42,48,70

9

4

Mengenali Emosi Orang lain

a.Peka terhadap perasaan orang lain

10,27,31,52,81

19,36,63,85,91

10

b.Mendengarkan masalah orang lain

59,75,92,96,98*

11,23,43*,49,

100

8

5

Membina Hubungan

a.Dapat bekerja sama

32,53,71,76*,88

12,20,37,93,99

9

b.Dapat berkomunikasi.

13,24,60*,64,86*

33,44,50,54,82

8

TOTAL

85

*) item yang gugur

ªAnalisis korelasi antar faktor

Korelasi antar faktor dilakukan dengan mengkorelasikan setiap faktor dengan faktor lainnya dan dengan total faktornya. Berdasarkan hasil korelasi antar faktor, maka terlihat bahwa setiap faktor menunjukkan hubungan yang signifikan dengan totalnya. Hal ini berarti bahwa faktor-faktor pada skala kecerdasan emosional benar-benar mengukur hal yang hendak diukur. Selebihnya dapat dilihat pada tabel korelasi antar faktor di bawah ini :

Tabel 4
Korelasi Antar Faktor Skala Kecerdasan Emosional

Faktor

F1

F2

F3

F4

F5

F tot

1. Mengenali emosi diri

1.000

.762

.778

.545

.499

.851

2. Mengelola emosi

.762

1.000

.842

.538

.509

.878

3.Memotivasi diri sendiri

.778

.842

1.000

.554

.552

.898

4. Mengenali emosi orang lain

.545

.538

.554

1.000

.754

.796

5. Membina hubungan

.499

.509

.552

.754

1.000

.778

Total

.851

.878

.898

.796

.778

1.000

ªReliabilitas Instrumen

Reliabilitas pada skala kecerdasan emosional dihitung dengan menggunakan rumus Alpha Cronbach. Setelahdihitung, maka diperoleh nilai koefisien reliabilitas alpha sebesar 0,9538. hal ini menunjukkan bahwa instrumen skala kecerdasan emosional yang ada memiliki reliabilitas yang sangat baik sehingga memungkinkan atau layak digunakan dalam penelitian.

ªPelaksanaan Penelitian

Penelitian dilaksanakan dengan menyebarkan skala kecerdasan emosional yang telah disiapkan kepada siswa SMU Lab School sebanyak150 set sesuai dengan jumlah sample yang dibutuhkan. Penelitian ini dilakukan selama tiga hari, dari hari Senin, tanggal 19 Mei hingga hari Kamis, tanggal 22 Mei 2003. Skala yang telah diisi oleh para siswa kelas II ini langsung dikembalikan kepada penulis. Pada penyebaran skala ini, penulis dibantu oleh guru BK, Ibu Ita. Karena pada saat menyebarkan skala, penulis menggunakan jam pelajaran BK.

Setelah melakukan penyebaran skala, penulis meminta izin untuk memperoleh data dokumen prestasi belajar siswa kelas II SMU Lab School. Data ini didapat dari koordinator BK, Ibu Ita.

ªAnalisis Data Penelitian

Dari hasil penelitian diperoleh data mengenai kecerdasan emosional dan prestasi belajar siswa kelas II yang kemudian dianalisis dengan menggunakan rumus korelasi product moment dari Pearson dengan bantuan progaram SPSS versi 11.01 for windows. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,248 dengan p = 0,002pada taraf signifikan 0,05.

Tujuan diadakan analisis data adalah untuk menguji hipotesa yang diajukan dalam penelitian ini yaitu melihat ada atau tidaknya hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar pada siswa kelas II SMU Lab School Jakarta Timur. Berdasarkan data yang ada, karena p = 0,002 (< 0,05) maka dengan demikian hipotesa nihil (Ho) yang berbunyi “Tidak ada hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar” ditolak, sedangkan hipotesa kerja (Ha) yang berbunyi “Ada hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar” diterima.

ΩKesimpulan

¯Rangkuman hasil penelitian

Hasil penelitian dari data analisis korelasi product moment menunjukkan korelasi (r) sebesar 0,248 dengan p = 0,002, hal ini menunjukkan adanya korelasi antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar dengan arah hubungan positif. Artinya, jika kecerdasan emosional tinggi, maka prestasi belajar tinggi dan sebaliknya.

¯Pembahasan

Berdasarkan analisis data penelitian menunjukkan korelasi (rxy) sebesar 0,248 dengan p = 0.002 < 0.05 maka Ha diterima dan Ho ditolak. Hal tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar pada siswa kelas II SMU Lab School Jakarta Timur.

Rendahnya peranan kecerdasan emosi terhadap prestasi belajar disebabkan oleh banyaknya faktor yang mempengaruhi prestasi belajar itu sendiri. Prestasi belajar menunjukkan taraf kemampuan siswa dalam mengikuti program balajar dalam waktu tertentu sesuai dengan kurikulum yang telah ditentukan. Tes prestasi belajar yang diukur adalah pengetahuan yang dimiliki siswa (soal hafalan) dan bagaimana menerapkan pengetahuan tersebut untuk menyelesaikan soal-soal yang ada (soal hitungan, analisis masalah). Di tingkat SMU, umumnya soal-soal yang diberikan masih pada tingkat kompetensi recall, tingkat kompetensi aplikasi dan analisis cenderung hanya diterapkan pada mata pelajaran matematika, fisika dan kimia. Prestasi belajar biasanya ditunjukkan dalam bentuk huruf atau angka, yang tinggi rendahnya menunjukkan seberapa jauh siswa telah menguasai bahan yang telah diberikan, tetapi hal tersebut sudah tidak dapat diterima lagi karena hasil rapor tidak hanya menunjukkan seberapa jauh siswa telah menguasai materi pelajaran yang telah diberikan. Presatasi belajar juga dipengaruhi oleh perilaku siswa, kerajinan dan keterampilan atau sikap tertentu yang dimiliki siswa tersebut, yang dapat diukur dengan standar nilai tertentu oleh guru yang bersangkutan agar mendekati nilai rata-rata.

Perbedaan budaya dalam pengekspresian emosi dalam suatu negara dengan negara lain juga dapat berpengaruh terhadap rendahnya kecerdasan emosi seseorang. Pengekspresian emosi yang dianggap benar di suatu negara mungkin dianggap tidak benar atau tidak pantas di negara lain. Khususnya di Asia, orang dianjurkan memendam dan menyembunyikan perasaan negatif. Dalam penelitian ini, karena belum adanya skala kecerdasan emosional yang baku di Indonesia, maka penulis berusaha membuat sendiri skala kecerdasan emosional sebanyak 100 item berdasarkan faktor-faktor yang diadaptasi dari teori Daniel Goleman yang digunakan di Amerika, yaitu : mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, dan membina hubungan. Dari 100 item tersebutada 15 item yang gugur. Hal tersebut terlihat pada observasi di lapangan, beberapa subyek merasa kesulitan menentukan pilihan jawaban. mereka merasa ragu-ragu dalam menetapkan pilihan, sehingga ada yang mengatakan mengapa tidak ada pilihan ragu-ragu. Serta karena banyaknya jumlah pernyataan yang harus diisi dalam waktu yang terbatas, merasa bosan sehingga kurang konsentrasi dalam menjawab walau pada akhirnya mereka mampu mengisi seluruh pernyataan tersebut.

Selain itu, beberapa studi juga menegaskan terpisahnya kecerdasan emosional dari kecerdasan akademis, dan menemukan kecilnya hubungan atau tiadanya hubungan antara nilai tes prestasi akademis atau IQ dan perasaan sejahtera emosional seseorang, sebab orang yang mengalami amarah atau depresi yang hebat masih bisa merasa sejahtera bila mereka mempunyai kompensasi berupa saat-saat menyenangkan atau membahagiakan (Goleman dalam Wahyuningsih, 2004). Dari hasil survey besar-besaran di Amerika terhadap orang tua dan guru menunjukkan bahwa anak-anak generasi sekarang lebih sering mengalami masalah emosi daripada generasi terdahulu. Rata-rata, anak-anak sekarang tumbuh dalam kesepian dan depresi, lebih mudah marah dan lebih sulit diatur, lebih gugup dan cenderung cemas, lebih impulsif dan agresif. Hal serupa juga terjadi di negara-negara lain. Menurut Dr. Thomas Achenbach, psikolog dari University of Vermont yang melakukan penelitian tersebut di negara lain mengatakan bahwa menurunnya kemampuan-kemampuan dasar pada anak-anak ini tampaknya bersifat mendunia. Tanda-tanda paling jelas mengenai penurunan ini terlihat dari bertambahnya kasus kaum muda yang mengalami masalah-masalah seperti putus asa terhadap masa depan dan keterkucilan, penyalahgunaan obat bius, kriminalitas dan kekerasan, depresi atau masalah makan, kehamilan tidak diinginkan, kenakalan dan putus sekolah (Goleman dalam Wahyuningsih, 2004). Seperti yang telah dijelaskan dalam bab terdahulu bahwa anak yang mendapatkan pendidikan emosi lebih mampu mengatasi masalah-masalah yang terjadi disekitar mereka dan mampu memenuhi tuntutan akademis di sekolah.

Kecerdasan emosi itu sendiri tidak diajarkan secara khusus di sekolah dan tidak tercatat dalam dokumen rapor, seperti nilai-nilai pelajaran ataupun keterampilan lainnya sehingga tidak ada sumbangan secara langsung terhadap peningkatan prestasi belajar.

¯Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ada hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar pada siswa kelas II SMU Lab School Jakarta Timur.

¯Saran

Peneliti memberi beberapa saran yaitu :

ªDisarankan kepada pihak sekolah terutama guru-guru pengajar agar memasukkan unsur-unsur kecerdasan emosioal dalam menyampaikan materi serta melibatkan emosi siswa dalam proses pembelajaran.

ªBagi para meneliti untuk penelitian selanjutnya sebaiknya di dalam pengambilan data tentang prestasi belajar tidak menggunakan seluruh mata pelajaran melainkan difokuskan pada satu atau dua mata pelajaran saja sehingga hasil dari data tersebut sesuai dengan yang diharapkan.

üDaftar Pustaka

Wahyuningsih, Amalia Sawitri. (2004). Hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar pada siswa kelas II SMU Lab School Jakarta Timur. Skripsi. http://www.scribd.com/doc/8949394/skripsi-psikologi.


Previous Next

9 Responses (+add yours?)

  1. deska
    Jun 14, 2010 @ 03:25:37

    mbak maksih jurnalnya bagus bngt…

  2. tyas
    Oct 15, 2010 @ 06:04:44

    sama sama

  3. Agustin Cucuzza
    Jan 03, 2011 @ 02:54:07

    Great stuff from you, man. Ive read your stuff before and youre just too awesome. I love what youve got here, love what youre saying and the way you say it. You make it entertaining and you still manage to keep it smart. I cant wait to read more from you. This is really a great blog.

  4. Travel Offers
    Jan 07, 2011 @ 08:25:03

    Man I like this comment and it is so good and I am gonna bookmark it. I Have to say the Indepth analysis this article has is trully remarkable.No one goes that extra mile these days? Bravo!! Just another suggestion you caninstall a Translator for your Worldwide Readers .

  5. jojo
    Oct 19, 2011 @ 09:35:48

    kak ini contoh review jurnal ya?

  6. tyaseta_rabita@yahoo.com
    Oct 21, 2011 @ 02:12:48

    @jojo : yup,betul

  7. syamsul Arifin
    Nov 22, 2011 @ 18:17:53

    boleh minta review skripsi gak ka buat jurusan SI

  8. Walk in Dusche
    Feb 21, 2012 @ 17:31:38

    Hi would you mind stating which blog platform you’re using? I’m planning to start my own blog soon but I’m having a difficult time deciding between BlogEngine/Wordpress/B2evolution and Drupal. The reason I ask is because your design seems different then most blogs and I’m looking for something completely unique. P.S Sorry for getting off-topic but I had to ask!

  9. Dalia Frangione
    May 06, 2012 @ 20:19:03

    Wow you hit it on the dot we shall submit to Plurk in addition to Squidoo nicely done انواع محركات الطائرات | هندسة نت was great

Leave a Reply

Stop censorship