Parasitologi dan cacingologi eeeh

Lembar Pengesahan
Tutor D-3

Dr. Winda Lestari

Kata Pengantar

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat-Nya yang telah member karunia-Nya kepada kami untuk menyelesaikan makalah ini. Makalah yang kami bahas mengenai ‘Parasitologi’.
Adapun tujuan kami membuat makalah ini adalah untuk memenuhi tugas kewajiban pada setiap case yang dipelajari dan juga semoga dapat memberikan manfaat kepada beberapa pihak yang ingin menggali informasi dalam makalah ini. Terima kasih kami haturkan kepada tutor kami dr.Winda Lestari yang telah membimbing kami selama proses pengajaran.
Dalam makalah ini kami membahas mengenai semua hal yang berkaitan dengan parasitologi dan dibahas secara terperinci. Dalam pembuatan isi makalah ini didasari oleh sebuah case seorang anak bernama Patra yang cacingan.
Dengan ini kami berharap semoga makalah yang kami buat telah sesuai dengan yang diharapkan dan benar. Selain itu semoga makalah ini juga bias bermanfaat bagi kami maupun pembaca lainnya. Terima kasih.

Case Cacingan

Menjelang ujian semester kelas III SD, ibu Patra merasa agak khawatir. Hal ini disebabkan karena belakangan ini Patra (8 tahun) tidak bersemangat seperti biasanya. Walaupun bukan juara kelas, namun nilai-nilai Patra selalu baik dan termasuk dalam 5 besar di kelasnya. Selain itu, Patra juga anak yang energik dan ceria. Setiap hari, dengan berlepas sepatu, Patra akan bermain di perkebunan di dekat sekolah bersama dengan teman-temannya. Bermain air di sungai sambil membersihkan sepeda juga kesenangannya yang lain. Namun belakangan Patra terlihat lesu, lemah dan cepat mengantuk.
Ibu Patra sebelumnya menyangka mungkin Patra kelelahan atau kurang banyak makan. Namun, walaupun sudah banyak istirahat dan makan dengan cukup, tetap saja Patra terlihat tidak sesegar biasanya. Akhirnya ibu Patra mengajak anaknya ke Puskesmas di kampong tempatnya tinggal. Dokter yang memeriksa menyatakan bahwa Patra tidak mengalami gejala penyakit yang mengkhawatirkan. Dalam anamnesis, Patra hanya mengatakan kadang suka merasa agak mual, tapi tidak muntah. Selain itu Patra juga sering mengalami diare belakangan ini. Namun, dengan memakai obat penghenti diare yang dijual di warung, biasanya diare yang dialami Patra akan berhenti. Akhirnya dokter menyarankan agar Patra melakukan pemeriksaan darah dan pemeriksaan tinja. Pemeriksaan mikroskopis pada tinja menunjukkan bahwa Patra mengalami infeksi cacing Ancylostoma duodenale. Dokter member obat anti parasit dan menyarankan agar Patra dan keluarganya lebih memperhatikan kebersihan di rumah dan lingkungannya. Juga menganjurkan Patra untuk selalu menggunakan alas kaki jika keluar rumah dan selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah makan dengan sabun.

PARASITOLOGY

Definisi
Parasitologi ialah ilmu yang mempelajari jasad-jasad yang hidup untuk sementara atau tetap di dalam atau pada permukaan jasad lain dengan maksud untuk mengambil makanan sebagian atau seluruhnya dari jasad itu (parasitos= jasad yang mengambil makanan; logos= ilmu).
I.Zooparasit = parasit yang berupa hewan, di bagi dalam:
a. Protozoa= hewan yang bersel satu seperti amoeba
b. Metazoa= hewan yang bersel banyak yang dibagi lagi dalam helmintes (cacing)   dan artropoda (serangga)
II.Fitoparasit = parasit yang berupa tumbuh-tumbuhan yang terdiri dari:
a.    Bakteri
b.    Fungsi (jamur)
III. Spirochaeta dan Virus
Dalam parasitologi kedokteran dipelajari zooparasit yang termasuk dalam golongan helmintes, protozoa, artropoda dan fitoparasityaitu fungus.

Terminologi
PARASITISME
Mencakup setiap hubungan timbal balik suatu spesies lain untuk kelangsungan hidupnya. Dalam hal tersebut, satu jenis mendapat makanan dan lingkungan jasad lain yang dirugikan dan mungkin dibunuhnya. Sebenarnya parasit tidak bermaksud membunuh hospesnya tanpa membahayakan dirinya sendiri.
Menurut derajat parasitisme dapat dibagi menjadi:
•    Komensalisme
Suatu jenis jasad mendapat keuntungan dari jasad lain akan tetapi jasad lain tersebut tidak dirugikan.

•    Mutualisme
Hubungan 2 jenis jasad yang keduanya dapat keuntungan.
•    Simbiosis
Hubungan permanen antar dua jenis jasad dan tidak dapat hidup terpisah
•    Pemangsa (predator)
adalah parasit yang membunuh terlebih dahulu mangsanya dan kemudian    memakannya.

HOSPES
Menurut macamnya hospes dapat dibagi menjadi:
•    Hospes definitif
Hospes tempat parasit hidup, tumbuh menjadi dewasa dan berkembang biak secara seksual.
Contoh    : manusia merupakan hospes def dari Trematoda Gondii.

•    Hospes perantara
Hospes tempat parasit tumbuh mejadi bentuk infekstif yang siap ditularkan kepada manusia (hospes).
Contoh    : Dalam siklus hidupnya Trematoda pada umumnya memerlukan keong   sebagai hospes perantara  dan hewan lain (Ikan, Crustacea , keong) ataupun tumbuh-tumbuhan air sebagai hospes perantara kedua.

•    Hospes reservoar
Hewan yang mengandung parasit dan merupakan sumber infeksi bagi manusia.
Contoh    : manusia yang memakan hewan atau tumbuhan yang mengandung parasit, misalnya cestoda yang hidup di tubuh manusia, dan yg sebagai sumbernya hewan yang mengandung parasit tersebut.

•    Hospes paratenik
Hewan yang mengandung stadium infektif parasit tanpa menjadi dewasa; dan stadium infektif ini dapat ditularkan dan menjadi dewasa pada hospes definif.
Contoh    : pada cacing tambang, manusia atau hewan yg menjadi hospes definitifnya, dan stadium yang menginfeksi yaitu telur yang mengandung larva.

VEKTOR
Yaitu suatu jasad (biasanya serangga) yang dapat menularkan parasit pada manusia dan hewan.
Misalnya: nyamuk Anopheles yang menularkan parasit malaria dan Culex sebagai vektor filariasis.
Vektor dibagi menjadi    :
    Vektor biologi: serving as the site of some developmental events in the life cycle of the parasite
    Vektor mekanik:or nonessential to the life cycle of the parasite

Vektor Mekanik
    Musca  (lalat)
    ordo diptera, kelas insekta.
ex : Musca domestica (lalat rumah)
berperan: vektor mekanik amebiasis,disentri,toksoplasmosis & penyakit cacing usus
tempat perindukan: timbunan sampah,tinja manusia & binatang
    Periplaneta
ordo dyctioptera, kelas insekta
ex: Periplaneta americana
    berperan :
vektor mekanik amebiasis,lambliasis,taksoplasmosis, askariasis,isosporiasis

Vektor biologi:
-    Ornithoros moubata
-    Orninthodoros hermsi
-    Pediculus humanus corporis
-    Aedes aegypty
-    Aedes abopictus
-    Culex tritaeniorthyncus

DAUR HIDUP
Dalam daur hidup ditemukan sebagai stadium, pada helmintes dikenal stadium dewasa, telur dan larva, sedangkan pada protozoa dikenal stadium trofoxoit (vegetatif dan kista).
•    Helminthes : dewasa  telur  larva  hospes definitive  hospes reservoar  hospes perantara
•    Protozoa : trofozoit  kista .

TATA NAMA
Cara menulis nama parasit mengikuti International Code of Zoological Nomenclatur. Tiap parasit digolongkan ke dalam :
filum, kelas, ordo, famili, genus dan spesies.
Secara Binomial (Linnaeus 1758)
Untuk spesies ditentukan dua nama, misalnya Ascaris lumbricoides.
Nama genus dan nama spesies :  Ascaris lumbricoides
(Ascaris – genus;      lumbricoides – spesies) A. lumbricoides
Tata nama sama dengan mikrobiologi secara binomial, yakni memakai genus dan sp.

Klasifikasi parasit secara khusus
Menurut tempat hidupnya
     Ektoparasit / di luar tubuh (infestasi)
     Endoparasit / di dalam tubuh (infeksi)
Menurut  keperluan akan hospes
    Parasit obligat (hidup dalam hospes)
contoh: Ascaris lumbricoides (cacing gelang), Necator americanus (cacing tambang).
    Parasit  fakultatif (bisa hidup tanpa hospes     definitif(hospes tempat parasit hidup ) )
contoh: nyamuk betina bisa hidup walaupun tidak menghisap darah
      Parasit insidentif (tidak menginfeksi     manusia tetapi tiba-tiba ada dalam tubuh manusia)
contoh : Brugia panangi
      Parasit temporer (organisme yang     sewaktu-waktu menjadi parasit, jika    butuh makan akan menjadi parasit).
contoh : Lintah.

Klasifikasi parasit secara medis/kedokteran
    Helmintologi (ilmu yg mempelajari parasit     berupa cacing)
     Protozoologi (ilmu yg mempelajari tentang     hewan bersel satu)
     Entomologi (ilmu yg mempelajari tentang     vektor)
     Mikologi (ilmu yg mempelajari tentang jamur)

HELMINTOLOGI

Adalah ilmu yang mempelajari parasit berupa cacing. Berdasarkan taksonomi, helmint di bagi menjadi :
    NEMATHELMINTHES
Morfologi    : cacing ini mempunyai kepala, ekor, dinding dan rongga badan, dan alat-alat lain yang agak lengkap
Daur hidup    : umumnya cacing bertelur, tapi ada juga yang vivipar dan berkembangbiak secara partenogenesis. Cacing betina dapat bertelur 20-200.000/hari, dikeluarkan dari badan hospes melalui tinja. Larva bertumbuh dengan mengalami pergantian kulit. Bentuk infektif dapat memasuki badan manusia dengan berbagai cara : secara aktif, tertelan, atau di masukkan oleh vektor melalui gigitan.
•    Nematoda Usus
ANCYLOSTOMA DUODENALE

Kingdom         : Animalia
Filum             : Nematoda
Kelas            : Secernentea
Ordo            : Strongilodae
Famili            : Ancylostomidae
Genus            : Ancylostoma
Spesies        : Ancylostoma Duodenale
Morfologi    : – bentuk huruf C
-dimulutnya terdapat 2 pasang gigi ventral, 1 pasang gigi dorsal semilunar.
- jantan : panjang 1,0 – 1,3 cm, diameter 0,6 mm, memiliki bursa kopulatriks
- betina : panjang 0,8 – 1,1 cm, diameter 0,45mm, ekor runcing
- warna putih kecoklatan atau agak merah muda
Hospes & Penyakit   : – hospes : manusia , penyakit : ankilostomiasis
Distribusi Geografik : diseluruh daerah khatulistiwa, dan di pertambangan atau perkebunan. Prevalensi di Indonesia tinggi terutama di pedesaan 40%
Daur hidup            : telur – larva Rabditiform – larva Filariform – menembus kulit – kapiler darah – jantung kanan – paru – bronkus – trakea – laring – usus halus

Telur        : Ancylostoma duodenale bertelur 10.000/hari , ukuran 70×45 mikron , bulat lonjong, kedua kutub datar, terdapat 2-8 sel, berkembang baik pada tanah gembur, menetas dlm waktu 1-1,5 hari
Larva        : telur menetas menjadi larva Rabditiform. Dalam waktu 3 hari larva Rabditiform berubah menjadi Filariform.
-    Rabditofrm : panjang 250 mikron, rongga mulut panjang & sempit, esofagus dengan 2 bulbus dan menempati 1/3 badan anterior
-    Filariform   : panjang 600 mikron, ruang mulut tertutup, esofagus menempati ¼ panjang badan bagian anterior
Patologi Klinis :  – stadium Larva : “ground itch” berupa bintik  merah dan gatal, pada siklus paru menyebabkan pneumonia
-    Stadium dewasa : anemia hipokrom mikositer, eosinofilia
Diagnosis    : – telur         : tinja
-    Larva : aliran darah

TRICHURIS TRICHIURA

Hospes & Penyakit    : hospes = manusia , penyakit = trikuriasis
Distribusi Geografik    : ditemukan di daerah panas dan lembab. Bersifat kosmopolit
Morfologi        : cacing betina panjangnya 5cm , jantan 4 cm. Bagian anterior langsing seperti cambuk, panjangnya 3/5 dari panjang tubuh. Bagian posterior lebih gemuk, pada cacing betina bentuknya membulat tunpul dan pada cacing jantan melingkar dan terdapat 1 spikulum.

ASCARIS LUMBRICOIDES

•    Hosepes & nama penyakit
Hospesnya adalah manusia sedangkan nama penyakit adalah askariasis
•    Distribusi geografik
Kosmopolit
Survei di Indonesia antara tahun 1970-1980 menunjukkan pada umumnya prevalensi 70 %/lebih
•    Morfologi
Cacing jantan  10-30 cm
Cacing betina  22-35 cm
Cacing dewasa betina bertelur 100.000-200.000/hari (terdiri dari telur yang dibuahi & yang tidak dibuahi
Telur yang dibuahi  60×45 mikron & yang tidak dibuahi 90×40 mikron
•    Daur Hidup
Telur berkembang infektif dalam 3 minggu  tertelan manusia  menetas di usus halus –? Larva menembus dinding usus halus  pembuluh dara/saluran limfe  dialirkan ke jantung  ke paru  larva di paru menembus dinding pembuluh darah  dinding alveolus  ke rongga alveolus  naik ke trakea melalui bronkiolus & bronkus  dari trakea larva menuju faring  penderita batuk  larva tertelan ke esofagus  usus halus  cacing dewasa

•    Patologi & gejala klinis
Disebabkan oleh larvanya yaitu batuk, demam & eosinofilia (paru)
Disebabkan oleh cacing dewasanya yaitu mual, nafsu makan berkurang, diare/konstipasi
•    Diagnosis
Pemeriksaan tinja  ada telurnya (diagnosis askariasis)
Cacing dewasa keluar sendiri melalui mulut, hidung , dubur dan tinja
•    Pengobatan
Perorangan  piperasi, pirantel pamoat, mebendazol/albendazol lalu ada lagi oksantel pirantel pamoat  obat yang digunakan untuk infeksi campuran A. Lumbricoides & T. Trichiura
Massal 
Obat mudah diterima di masyarakat
Aturan pemakaian sederhana
Efek samping minim
Bersifat polivalen  berkhasiat terhadap beberapa jenis cacing
Harganya murah
•    Prognosis
Prognosis baik  tanpa pengobatan infeksi cacing ini dapat sembuh sendiri dalam waktu 1,5 tahun. Jika dengan pengobatan, presentase kesembuhannya adalah 70-99%
•    Epidemiologi
Prevalensi askariasis pada anak tinggi mencapai 60-90%
Kurangnya pemakaian jamban keluarga  pencemaran tanah dengan tinja di halaman rumah, di buah pohon, di tempat cuci & pembuangan sampah
Kebiasaan menggunakan tinja menjadi pupuk
ASCARIS LUMBRICOIDES

    PLATYHELMINTHES
TAENIA SAGINATA

•    Hospes & nama penyakit
Hospesnya manusia, kerbau, sapi dan seluruh keluarga Bovidae
Nama penyakitnya adalah taeniasis saginata
•    Distribusi Geografik
Termasuk kosmopolit yang di dapatkan di Eropa, Timur tengah, Afrika, Asia, Amerika Utara, Amerika Latin, Rusia & Indonesia
•    Morfologi
Ukuran badan besar dan panjangnya 4-12 meter/lebih
Kepala/skoleks 1-2 milimeter
Leher dan stroma (merupakan rangkaian ruas-ruas proglotid) terdiri dari 1000-2000 buah
Rangkaian ruas-ruas  proglotid dibagi menjadi:
1.    Rangkaian ruas-ruas proglotid belum dewasa (imatur)  belum terlihat struktur alat kelamin yang jelas
2.    Rangkaian ruas-ruas proglotid dewasa (matur)  terlihat struktur alat kelamin yang jelas
3.    Mengandung telur (gravid)
•    Daur Hidup
Proglotid gravid terlepas dari strobila (keluar dari tinja/keluar spontan dari dubur)  telur melekat pada rumput bersama tinja  ternak makan rumput yang terkontaminasi  dicerna di saluran pencernaan & embrio heksakan menetas  menembus dinding usus  masuk ke saluran getah bening/darah  ke aliran darah  ke jaringan ikat di sel-sel otot untuk tumbuh menjadi cacing gelembung yang disebut sistiserkus bovis yaitu larva Taenia Saginata (terjadi setelah 12-15 minggu)  mengendap pada otot maseter, paha belakang & punggung  cacing  gelembung terdapat di dagig sapi yang dimasak kurang matang  dimakan manusia  skoleks keluar dari cacing gelembung dengan cara evaginasi  melekat pada mukosa usus halus contohnya jejenum  8-10 minggu jadi dewasa
•    Patologi & gejala klinis
Sakit ulu hati, perut merasa tidak enak, mual, muntah, mencret, pusing/gugup karena cacing (proglotid) bergerak di dalam tinja dan keluar dari lubang dubur, berat badan tidak jelas menurun
•    Diagnosis
Proglotid yang aktif bergerak dalam tinja/keluar spontan
Ditemukan telur dalam tinja/usap anus
Proglotid kemudian dapat diidentifikasi dengan merendamnya dalam cairan laktofenol sampai jernih. Setelah uterus dengan cabang-cabangnya terlihat jelas jumlah cabang-cabang dapat dihitung
•    Pengobatan
Obat tradisional : biji labu merah, biji pinang
Obat lama : kuinakrin, amodiakuin, niklosamid
Obat baru : prazikuantel
•    Prognosis
Prognosis umumnya baik, meskipun kadang-kadang sulit untuk mengeluarkan skoleksnya. Kemungkinan di dapatkannya sistiserkus bovis pada manusia sangat kecil, walaupun beberapa kasus dilaporkan
•    Epidemiologi
Cacing banyak di negara yang penduduknya banyak makan daging sapi/kerbau
Cara memelihara ternak ada yang di lepas di hutan/padang rumput dan ada juga yang dipelihara dan dirawat dengan baik di dalam kandang
Pencegahan  mendinginkan daging sampai 10oC di bawah 0, iradiasi dan memasak daging sampai matang

TAENIA SOLIUM

Hospes & nama penyakit
Hospes defiitifnya adalah manusia
Hospes perantaranya adalah manusia, babi, monyet, onta, anjing, babi hutan, domba, kucing dan tikus
Nama penyakit yang disebabkan oleh cacing  taenia solium adalah Taenasis solium sedangkan nama penyakit yang disebabkan oleh larvanya adalah sistiserkosis
•    Distribusi geografik
Kosmopolit, tidak ditemukan di negara-negara islam melainkan di negara Eropa (Gzech, Slowkra, Knoatia, Serbia), Amerika Latin Cina, India, Amerika Utara, Irian Jaya, Bali, Sumatre Utara
•    Morfologi
Panjang tubuh  2-4 m kadang 8 m
Skoleks  1 mm
Terdiri dari 4 buah batil hisap dengan rostelum yang mempunyai 2 baris kait-kait yang masing-masingnya sebanyak 25-30 buah
Leher
Stobila
Rangkaian ruas-ruas  proglotid dibagi menjadi:
1.    Rangkaian ruas-ruas proglotid belum dewasa (imatur)  belum terlihat struktur alat kelamin yang jelas
2.    Rangkaian ruas-ruas proglotid dewasa (matur)  terlihat struktur alat kelamin yang jelas
3.    Mengandung telur (gravid)
•    Daur Hidup
Telur keluar melalui celah robekan pada proglotid  terlur termakan  dicerna  embrio heksakan keluar dari telur  menembus dinding usus & masuk ke saluran getah bening/darah  embrio ikut ke aliran darah & menyangkut di jaringan otot babi  embrio cacing (sistiserkus) termakan oleh manusia  dinding krista dicerna, skoleks mengalami evaginasi untuk kemudian melekat pada dinding usus halus seperti jejenum  3 bulan menjadi dewasa
•    Patologi dan gejala klinis
Nyeri ulu hati, mencret, mual, obstipasi & sakit kepala  cacing dewasa
Darah tepi dapat menunjukkan esinofilia
Sistiserkus (larva) terdapat di jaringan subkutis, mata, jaringan otak, otot, otot jantung, hati, paru & rongga perut  gejala klinis yang berarti
Kalsifikasi (perkapuran)  akibatnya adalah pseudohipertrofi otot, gejala miosis, demam tinggi & eosinofilia
Ayan (epilepsi), meningo, nyeri kepala, kelainan jiwa disebabkan oleh sistiserkus
Hidrosefalus internus  sumbatan aliran cairan serebrospinal
Sistiserkus tunggal yang ada di ventrikel N dari otak  kematian
•    Diagnosis
Menemukan telur & proglotid. Telur sukar di bedakan dengan telur taenia saginata (diagnosis taeniasis solium)
Biopsi pada otot & secara radiologis (diagnosis sistiserkosis kulit)
Computerized tomographic scan (C.T. scan) (diagnosis sisitiserkosis jaringan otak)
Uji hemaglutinasi Counter Immuno Electrophoresis, ELISA, EIBT (Western Blor) & PCR
•    Pengobatan
Teniasis solium  prazikuantel
Sistiserkoasis  prazikuantel, albendazol/dilakukan pembedahan
•    Prognosis
Teniasis solium  disembuhkan dengan obat
Sistiserkosis  tergantung berat ringannya infeksi & alat tubuh yang dihinggapi. Bila yang dihinggapi alat penting, prognosis kurang baik
•    Epidemiologi
Orang yang bukan pemeluk islam  memakan babi  penyakit
Cara penyantapan bisa matang, setengah matang dan mentah
Pendidikan kesehatan
Pengobatan
Pencegahan

PROTOZOLOGI

ENTAMOEBA HISTOLITICA
•    Sejarah
Ditemukan oleh Losch (1875) dari tinja penderita di Leningrad Rusia
Menemukan e. Histolytica dalam bentuk krista oleh Quinche & Roos (1893)
Schaudinn (1903)  memberi nama spesies Entamoeba histolytica & membedakannya dengan ameba yang juga hidup dalam usus besar yaitu E.coli
10 tahun kemudian Walker & Sellards (Filipina)  experimen dengan sukarelawan  E. Histolytica penyebab kolitis amebik & E. Coli parasit komensal dalam usus besar
•    Hospes dan nama penyakit
Hospesnya adalah manusia sedangkan nama penyakitnya adalah amebiasis
•    Distribusi geografik
Kosmopolit  terdapat di seluruh dunia terutama daerah tropik & beriklim sedang
•    Morfologi
3 stadium :
Histolytica
Bentuknya trofozoit, bersifat patogen, ukuran lebih besar 20-40 mikron, Ektoplasma nyata, Endoplasma mengandung sel darah merah, pseudopodium dibentuk dadakan sehingga pergerakan cepat, inti di endoplasma
Minuta
Bentuk trofozoit, tidak patogen, ukuran lebih kecil 10-20 mikron, ektoplasma tidak nyata, Endoplasma mengandung sisa-sisa makanan & bakteri, pseudopodium dibentuk perlahan  pergerakan lambat, inti di endoplasma
Kista
Tidak patogen, merupakan bentuk infektif, ukurannya 10-20 mikron terdapat di rongga usus besar, bulat/lonjong, terdapat dinding yang melindunginya, terdapat endoplasma
•    Daur Hidup
Entamoeba histolytiva dalam bentuk kista keluar bersama tinja lalu ia dapat bertahan hidup di luar tubuh manusia dari ancaman dunia luar karena memiliki dinding yang dapat melindungi tubuhnya lalu entamoeba ini tertelan oleh manusia bisa karena manusia itu tidak bersih membersihkan kotorannya atau dalam media lain lalu entamoeba histolytica dalam bentuk kista ini masuk ke lambung manusia tetapi ia dapat bertahan hidup karena ia memiliki dinding yang tahan terhadap keasaman HCl lalu turun ke usus halus, disini dinding kista dicerna dan akan lisis lalu turun ke usus besar dan berubah menjadi bentuk minuta karena dinidngnya telah lisis, bentuk ini tidak patogen dan berkembang dalam usus besar, bentuk ini bisa berubah menjadi histolitika yang patogen apabila mengalami peristiwa tertentu dan bisa juga berubah menjadi kista dengan membentuk dinding baru.
•    Patologi dan gejala klinis
Enzim menghancurkan jaringan yang merupakan suatu cystein proteinase yang disebut histolisin (usus besar)
Ulkulus ameba  luka di bagian ulkulus
Amebiasis intestinal (amebiasis usus, amebiasis kolon)
•    Daignosis
Amebiasis kolon akut
    Diagnosis klinis  sindrom disentri, mules
    Diagnosis laboratorium  menemukan E. Histolytica bentuk histolitika dalam tinja
Amebiasis kolon menahun
    Diagnosis klinis  diare ringan, obstipasi, sindrom disentri
    Diagnosis laboratorium  menemukan E. Histolytica dalam bentuk histolytica dalam tinja
Amebiasis hati
•    Pengobatan
Emetin hidroklorida
Klorokuin
Antibiotik
Metronidazol (Nitroimidazol)
•    Epidemiologi
Kosmopolit  daerah tropik
Indonesia  10-18%
RRC, mesir, India, Belanda  10-11,5%
Eropa Utara  5-20%
Eropa Selatan  20-51%
Amerika  20 %
•    Pencegahan
Kebersihan perorangan
    Mencuci tangan dengan bersih sesudah buang air dan sebelum makan
Kebersihan lingkungan
    Masak air minum sampai mendidih, mencuci sayuran dampai bersih, buang air besar di jamban, tidak menggunakan tinja untuk pupuk, buang sampah pada tempatnya yang ditutup

ENTAMOEBA COLI
•    Hospes
Manusia
•    Distribusi geografik
Kosmopolit. Di indonesia bisa mencapai 8-18%
•    Morfologi
Vegetatif
Ukurannya 15-30 mikron, bentuknya trofozoid, lonjong/bulat, memiliki 1 inti entameba
Kista
Ukurannya 15-22 mikron, bulat/lonjong, memiliki inti 2 dan inti 8 (dewasa), dinding kista tebal berwarna hitam
•    Patologi dan gejala klinis
Tidak patogen tetapi penting untuk dipelajari untuk membedakan dengan E. Histolytica
•    Diagnosis
Menemukan trofozoit/bentuk kista dalam tinja

Giardia lamblia (lamblia intestinalis)
•    Sejarah
Antoni van leeuwenhoek (1681)  menemukan mikoorganisme yang bergerak dalam tinja
Lambl (1859)  memberi nama makhluk hidup ini denga nama intestinalis
Stiles (1915)  memberi nama  makhluk hidup ini dengan nama Giardia Lamblia
•    Hospes & nama penyakit
Hospesnya adalah manusia sedangkan nama penyakitnya adalah Giardiasis/Lambliasis
•    Distribusi geografik
Kosmopolit, yaitu biasanya berada di daerah yang beriklim panas
•    Morfologi
Bentuk Trofozoid
Besarnya yaitu 12-15 mikron
Memiliki 2 inti
Bentuknya seperti jambu monyet, bagian anterior membulat bagian posterior meruncing

Bentuk Kista
Besarnya yaitu 8-12 mikron
Memiliki 2 inti muda dan 4 inti matang
Berbentuk oval
•    Daur hidup
G.lamblia hidup di rongga usus kecil, yaitu duodenum dan bagian proksimal jejunum dan kadang-kadang di saluran dan kandung empedu. Dengan pergerakan flagel yang cepat trofozoit bergerak dari satu tempat ke tempat lain dan dengan batil isap melekatkan diri pada epitel usus. Trofozoit berkembangbiak dengan cara belah pasang longitudinal. Enkistasi terjadi dalam perjalanan ke kolon, bila tinja mulai menjadi padat. Bila kista matang tertelan oleh hospes, maka terjadi ekskistasi di suodenum, kemudian sitoplasmanya membelah dan flagel tumbuh dari aksonema sehingga terbentuklah 2 trofozoit. Cara infeksi ialah dengan menelan kista matang.
•    Patologi dan gejala klinis
Terjadi iritasi disebabkan oleh melekatnya parasit pada mukosa dengan batil isapnya.
Infeksi Giardia dapat menyebabkan diare disertai steatore karena gangguan absorpsi lemak dan juga gangguan absorpsi karoten, folat dan B12. Produksi enzim mukosa juga berkurang. Kelainan fungsi usus kecil ini disebut sindrom malabsorpsi, yang menimbulkan gejala kembung, abdomen membesar dan tegang, mual, anoreksia, feses banyak dan berbau busuk dan mungkin penurunan berat badan
•    Diagnosis
Gejala klinis giardiasis tidak khas. Diagnosis ditegakkan dengan menemukan bentuk trofozoit dalam tinja encer dan cairan duodenum dan bentuk kista dalam tinja padat

•    Pengobatan
Giardiasis dapat diobati dengan metronidazol yang jarang menimbulkan efek samping. Dosis untuk dewasa adalah 3 x 250 mg sehari selama 7 hari, dosis anak disesuaikan dengan umur

•    Prognosis
Prognosis giardiasis adalah baik bila pengobatannya tepat dan disertai perbaikan lingkungan dan sanitasi

•    Epidemiologi
Kosmopolit ; pravalensinya 2-25% atau lebih, tergantung dari golongan umur yang diperiksa dan sanitasi lingkungan. Pravalensi yang pernah ditemukan di Jakarta ialah 4,4%. Pravalensi G.lamblia di Jakarta antara tahun 1983 dan 1990 adalah 2,9% (194 positif dari 6810 sampel tinja yang dikirim ke Bagian Parasitologi FKUI dari penderita di Jakarta)

ENTOMOLOGI

Ilmu yang mempelajari tentang vektor kelainan dan penyakit yang disebabkan oleh arthopoda.

MORFOLOGI UMUM
    Badan yang beruas-ruas
     umbai-umbai yang beruas-ruas :
1.    pada kepala tumbuh menjadi antena
2.    Pada toraks tumbuh menjadi kaki&sayap
3.    Pada abdomen tumbuh menjadi kaki pengayuh
    Bentuk badan simetris bilateral
    Eksoskelet
Mempunyai sistem pencernaan, pernapasan, saraf, peredaran darah dan sistem reproduksi
Peranan
Menurut peranannya dalamm ilmu kedokteran, atropoda dibagi dalam golongan: 1) yang menularkan penyakit (vector dan hospes perantara), 2) yang menyebabkan penyakit (parasit), 3) yang menimbulkan kelainan karen atoksin yang dikeluarkan, 4) yang mnyebabkan alergi pada orang yang rentan dan 5) yang menimbulkan entomofobia
Serangga dapat menularkan penyakit melalui beberapa cara. Penularan secara mekanik berlangsung dari penderita orang lain dengan perantaraan bagian luar tubuh serangga.
Misalnya telur cacing, kista protozoa dan bakteri usus dapat dipindahkan dari tinja ke makanan melalui kaki atau badan lalat rumah
•    Penularan secara biologik dilakukan setelah parasit yang diisap serangga vector mengalami proses biologik didalam tubuh vektor.
•    Propagatif: bila didalam tubuh vector, parasit (Virus, bakteri) hanya membela diri menjadi bnyak. Ex: Yersinia pestis dalam pinjal tikus (Xenopsylla cheopis)
•    Sikliko Propagatif: bila di dalma tubuh vector, parasit (plasmodium, Leishmania, Trypanosoma) berubah bentuk dan membelah diri menjadi banyak. Ex: Plasmodium falciparum dalam nyamuk anopeles.
•    Sikliko developmental: bila di dalam tubuh vektor, parasit (Wuchereria, Brugia onchocerca)hanya berubah bentuk menjadi bentuk infektif. Ex: W. brancofti pada nyamuk culex.
•    Beberpa serangga mengandung toksin, dapat dapat memasukan toksinnya ke dalam badan manusia dengan cara kontak langsung (ulat), gigitan (kelabang, laba-laba), sengatan (kalajengking) atau tusukan (triatoma).
•    Toksin serangga dapat menyebabkan gejala setempat atau gejala umum, seperti gatal, Urtikaria, lepuh (ulat, kutu busuk) hemolisis (kalajengking), perdarahan (Lebah) dan gangguan saraf (kalajengking).
Classification
•    Insect divided into 5 classes:
    Insecta
    Arachnida
    Crustacea
    Chylopoda
    Diplopoda
Daur Hidup Nyamuk
•    Nyamuk mengalami metamorfosis sempurna : telur-larva-pupa-dewasa. Stadium telur, larva dan pupa hidup didalam air. Sdgkan stadium dwasa hidup di udara.
•    Telur yg baru diletakan brwarna ptih, stlh 1-2jam brbah mnjadi hitam. Setelah 2-4 hari telur menetas menjadi larva yang selalu hidup di dalam air.
•    Pertumbuhan larva instar 1 sampai instar 4 brlangsung 6-8 hari pda culex dan Aedes, sedangkan pada Mansonia kira-kira 3 mggu.
•    Untuk tumbuh menjdi nyamuk dwasa dprlukan waktu 1-3 hari sampai bbrpa mggu.

Daur Hidup Aedes Aegypti
•    Nyamuk betina meletakan elurnya pada dinding tempat perindukkannya. Seekor nyamuk betina dapat meletakan rata2 sebnyak 100 butir telur ai bertelur. Pertumbuhan dari telur menjadi dewasa memerlukan wktu kira2 9 hari.
•    Tempat perindukan utamanya ditempat air jernih yang brdekatan dgn rumah pnduduk. Tempat perindukan tsb brupa tempat perindukan buatan manusia seperti tempayan/gentong, tempat penyimpanan air minum, bak mandi, pot bunga, kaleng, botol, drum, ban mobil yang terdapat dihalaman rumah atau kebun yang berisi air hujan
intro
•    Protozoa adalah hewan bersel satu
•    Hidup sendiri / berkoloni
•    Sebagian besar protozoa hidup bebas di alam, tetapi beberapa jenis hidup sebagai parasit

Morfologi
    Mempunyai dua stadium yaitu vegetarif/trofozoit dan kista (tidak aktif)
    Ukuran protozoa hanya beberapa mikron sampai 40 mikron. Protozoa terbesar adalah Balantidium coli dgn ukuran 70 mikron
    Bentuk protozoa : bulat, lonjong, simetris, bilateral (tidak teratur)
    Terdiri atas (satu/lebih)inti dan sitoplasma
Inti protozoa
    Terdiri dari :
    Membran inti yg meliputi RE halus yg akromatik
    Cairan inti
    Kariosom (karyosoma, endosoma, nukleus)
    Butir kromatin
    Struktur inti terutama susunan kromatin dan kariosom, penting untuk membedakan spesies
Sitoplasma protozoa
    Terdiri atas : endoplasma dan eksoplasma
    Endoplasma (bagian dlm yg lbh besar) :
    Berbutir2 & mengandung inti mengatur gizi dan reproduksi
    Terdapat vakuol kontraktil, cadangan makanan,vakuol makanan
    Eksoplasma (bagian luar yg tipis )
    Tampak jernih
    Sebagai alat pergerakan,ekskresi,respirasi dan bertahan diri
    Alat pergerakan dpt berupa :
    Pseudopodium (kaki palsu)
    Flagel (bulu cambuk )
    Cillium ( bulu getar)
    Membran bergelombang
Reproduksi protoza
    Aseksual :
    Belah pasang = satu membelah menjadi dua
    Skizogoni = inti membelah jadi banyak
    Inti membelah pada stadium kista
    Seksual
    Synigami/konjugasi = bersatunya 2 sel
    Aseksual dan seksual secara bergantian
Contoh : sporozoa
Pembagian kelas
    Protozoa yg merupakan parasit :
a)    Rhizopoda
b)    Mastiogphora
c)    Cilliophora
d)    Sporozoa

MIKOLOGI

Adalah ilmu yang mempelajari tentang jamur. Jamur adalah tumbuh-tumbuhan berbentuk sel atau benang bercabang, mempunyai dinding dari selulosa atau kitin atau keduanya, mempunyai protoplasma yang mengandung 1 atau lebih inti, tidak mempunyai inti, tidak mempunyai klorofil dan berkembang biak secara aseksual, seksual atau keduanya.
MIKOLOGI KEDOKTERAN : ilmu yang mempelajari jamur serta penyakit yang ditimbulkan manusia
MIKOSIS              : penyakit yang disebabkan oleh jamur
Sifat Umum
•    Jamur menggunakan enzim untuk mengubah zat organik untuk pertumbuhannya sehingga jamur merupakan saprofit atau parasit
•    Jamur hidup di tempat lembab
Morfologi
Di dalam jamur terdapat :
a)    KHAMIR    : sel-sel berbentuk bulat, lonjong/memanjang yang berkembangbiak dengan membentuk tunas dan membentuk koloni yang basah dan berlendir
b)    KAPANG    : terdiri dari sel-sel memanjang dan bercabang yang disebut dengan HIFA. Hifa tersebut ada yang bersekat sehingga terbagi menjadi banyak sel/tidak bersekat yang disebut sebagai Hifa Senositik
c)    MISELIUM    : anyaman dari Hifa baik yang multiselular maupun yang senositik
Hifa dapat bersifat sebagai :
a)    Hifa vegetatif      : berfungsi untuk mengambil makanan untuk pertumbuhan
b)    Hifa reproduktif: berfungsi membentuk spora
c)    Hifa sbg udara  : berfungsi untuk mengambil oxygen
Spora dapat dihasilkan secara seksual atau aseksual. Spora seksual disebut talospora, yaitu spora yang langsung dibentuk dari hifa reproduktif. Spora yang termasuk talospora adalah :
a)     BLASTOSPORA    : spora yang berbentuk tunas pada permukaan sel, ujung hifa atau pada sekat atau pada septum hifa semu
b)    ARTROSPORA    : spora yang dibentuk langsung dari hifa dengan banyak septum kemudian mengadakan fragmentasi shg hifa tersebut terbagi menjadi banyak artrospora berdinding tebal.
c)    KLAMIDOSPORA    : spora yang dibentuk pada hifa di ujung, ditengah atau yang menonjol ke lateral, dan disebut klamidiospora lateral, interkaler & lateral.
d)    ALEURIOSPORA    : spora yang dibentuk pada ujung atau sisi hifa khusus yang disebut konidiofora. Aleuriospora ini kecil dan uniseluler, disebut mikrokonidia. Aleuriospora multiseluler besar/panjang dsbt makrokonidia.
e)    SPORANGIOSPORA: spora yang dibventuk dalam ujung hifa yang menggelembung, disebut sporangium. Spora seksual dibentuk oleh 2 sel/hifa. Yang termasuk golongan spora seksual adalah :
•    Zigospora    : spora yang dibentuk oleh 2 hifa yang sejenis
•    Oospora    : spora yang dibentuk oleh 2 hifa yang tidak sejenis
•    Askospora    : spora yang terdapat di dalam askus yang dibentuk oleh 2 sel atau 2 jenis hifa
•    Basidiospora    : spora yang dibentuk pada basidium sebagai hasil penggabungan 2 jenis hifa.
Klasifikasi
Jamur dibagi atas beberapa kelas, berdasarkan sifat koloni, hifa dan spora yang dibentuk oleh kapang atau khamir :
a)    ACTOMYCETES    : tergolong bakteri tapi karena penyakit yang ditimbulkannya mirip dengan beberapa penyakit jamur, maka secara tradisional dimasukkan da;lam mikologi.
b)    MYXOMYCETES    : bentuk vegetatif terbebntuk dari sel-sel yang motil. Karena pada stadium lanjut sel-sel tersebut tergabung dan membentuk bagian-bagian yang mirip sporulasi.
c)    CHYTRIDIOMYCETES: kapang dari kelas ini mempunyai hifa sinosotik. Salah 1 spesiesnya (Rhinosporum seberi) adalah patogen bagi manusia
d)    ZYGOMYCETES    : bersama OOMYCETES yang patogen untuk binatang air dan tumbuh-tumbuhan dahulu digolongkan dalam phycomycetes. Kelas kapang ini juga mempunyai hifa senositik.
e)    ASCOMYCETES    : kapang dari jenis ini membentuk askospora dalam askus. Meskipun sebagian besar merupakan saprofit atau penyebab penyakit tumbuh0tumbuhan, penyebab penyakit jamur sistemik pada manusia yang termasuk kelas ini
f)    BASIDIOMYCETES: kapang dari kelas ini membentuk basidiospora
g)    DEOTEROMYCETES: (fungi imperfecti) yang digolongkan dalam kelas ini adalah semua kapang yang belum dikenal stadium seksualnya.

PITRILIASIS VERSIKOLOR

Pitriasis Versikolor
Petriasis versikolor atau panu disebabkan oleh 7 spesies Malassezia yaitu malassezia furfur,malassezia globosa,malassezia obtuse,malassezia slooffiae,malassezia pachydermitas dan malassezia restricta.Jamur ini sering ditemukan sebagai saprofit pada kulit manusia

Malassezia furfur
Penyakit panu merupakan “penyakit rakyat” yang dapat menyerang semua orang pada semua golongan umur. Jadi tidak benar bila ada yang beranggapan bahwa penyakit kulit, khususnya panu, hanya menyerang orang yang berprofesi pekerja kasar seperti tukang becak, kuli atau sopir. Anggapan ini tentu salah, sebab penyakit kulit dapat menyerang siapa saja dan apapun pekerjaannya. Apalagi Indonesia adalah wilayah yang berada di daerah tropis sehingga membuat penduduknya mudah berkeringat. Keringat yang dibiarkan menempel pada kulit dalam waktu yang lama akan menjadi tempat tumbuhnya panu dengan subur.
Penyakit panu dalam bahasa kedokterannya disebut pitiriasis versikolor atau tinea versikolor yang disebabkan oleh jamur dalam genus Malassezia dan sebagai spesies tunggal disebut sebagai Malassezia furfur. Nama Malassezia furfur diambil dari nama penemunya Louis-Charles Malassez (dari prancis) pada akhir abad ke-19.
A. Aspek Biologi
Morfologi
Malassezia furfur merupakan flora normal dan terdapat pada mukosa dan kulit. Jamur ini berupa kelompok sel-sel bulat, bertunas, berdinding tebal, dan hifanya berbatang pendek dan bengkok. Malassezia furfur menghasilkan konidia sangat kecil ( mikrokonidia ) pada hifanya, tetapi di samping itu juga menghasilkan makrokonidia besar, multiseptat, berbentuk gelendong yang jauh lebih besar daripada mikrokonidianya.

Gambar : Malassezia furfur
Nampak untaian jamur ( pemeriksaan mikroskop ) terdiri dari spora dan hifa yang saling bergabung satu sama lainnya.

klasifikasi
Klasifikasi ilmiah dari Malassezia furfur :
Kerajaan : Fungi
Divisio : Basidiomycota
Kelas : Hymenomycetes
Ordo :Tremellales
Familia : Filobasidiaceae
Genus : Malassezia
Spesies : Malassezia furfur

B. Penyakit yang Ditimbulkan
Infeksi karena jamur Malassezia furfur akan menimbulkan penyakit pitiriasis versikolor atau panu. Gejalanya berupa bercak-bercak putih, kadang kemerahan atau cokelat. Biasanya terdapat di badan tapi bisa juga menyebar ke wajah dan disertai rasa gatal bila berkeringat. Jika sudah sembuh, penyakit panu itu sering meninggalkan bercak putih yang menetap dalam beberapa bulan sebelum kembali ke kulit normal.
Pitiriaris versikolor timbul ketika ragi Malassezia furfur yang secara normal mengkoloni kulit berubah dari bentuk yeast menjadi bentuk miselia yang patologik, kemudian menginvasi stratum korneum kulit. Beberapa kondisi dan faktor yang berperan pada patogenesis pitiriaris versikolor antara lain lingkungan dengan suhu dan kelembaban tinggi, produksi kelenjar keringat yang berlebih.
Jamur yang ditemukan sebenarnya normal ditemukan di kulit manusia. Namun dalam keadaan tertentu, misalnya kulit berkeringat, jamur ini akan membuat kulit menjadi berubah warna.
Penyakit ini dapat menyerang semua umur baik laki-laki maupun perempuan. Penyakit ini termasuk penyakit menular, karena jamur bisa berpindah dari bagian yang satu ke bagian yang lain. Terutama dari rambut ke kulit di bawahnya.
Hal-hal yang memudahkan seseorang terkena panu:
1. Kurang menjaga kebersihan tubuh
2. Keadaan basah atau berkeringat banyak
3. Keadaan yang lembab

KANDIDOSIS
Kandidosis :
Penyakit jamur yang menyerang kulit,kuku,selaput lendir,& alat dalam yang disebabkan oleh berbagai spesies Candida.

Penyebab: Candida khamir yang sering ditemukan pada manusia & binatang sebagai saprofit. Penyebab terbanyak kandidosis adalah Candida albicans,spesies dengan patogeisitas paling tinggi.

•    Patologi & gejala klinis
Pada manusia, Candida sp sering ditemukan dalam rongga mulut orang sehat, saluran cerna,saluran napas bagian atas,mukosa vagina & di bawah kukusebagai saprofit / komensal tanpa menyebabkan penyakit. Bila terjadi perubahan fisiologis / penurunan kekebalan selular maupun sistem fagositosis maka Candida yang saprofit akan mampu menyebabkan penyakit.
Berdasarkan lokalisasinya kandidosis dibagi menjadi kandidosis superfisialis & kandidosis sistemik / invasif.

•    Epidemiologi
Pada umumnya disebabkan oleh C.albicans, sedangkan infeksi sistemik lebih bervariasi,kurang dari 50% disebabkan oleh Candida non C.albicans. Ditemukan sebagai saprofit di saluran cerna & saluran pernapasan atas.

Kandidosis Superfisialis

KANDIDOSIS KULIT
Kelainan terutama ditemukan pada daerah yang lembab & hangat. Disintegrasi jaringan pada tempat tersebut menyebabkan turunnya imunitas lokal yang akan menyebabkan kandidosis kulit. Sering terjadi di sela jari kaki/tangan, inguinal,perineum,bawah payudara & ketiak. Kandidosis pada sela jari kaki / tangan dikenal sebagai ”penyakit kutu air” / ”rangen”. Kandidosis akut dimulai dengan gambaran lesi vesikopustular yang dapat meluas.

KANDIDOSIS KUKU
Biasanya terjadi pada orang dengan kelainan kongenital seperti kandidosis mukokutaneus kronik,orang yang sering berhubungan dengan air & pasien diabetes melitus. Kelainan yang terjadi adalah paronikia & gejala yang penting adalah kemerahan di daerah sekitar kuku yang disertai rasa nyeri. Kuku dapat berubah warna,rapuh & menebal. Kadang-kadang permukaan kuku menimbul & tidak rata yang dapat disertai lepas / hilangny kuku.

KANDIDOSIS SELAPUT LENDIR
Kandidosis mukosa dapat mengenai mukosa vagina,orofarings,esofagus & kadang–kadang mukosa intestinal.

Kandidosis Sistemik
Biasanya menyerang individu dengan faktor resiko berat,misalnya keganasan, pembedahan digesti, perawatan di ruang rawat intensif, luka bakar luas, pemberian antibiotik spektrum luas, sitostatik, imunosupresan & pemakaian peralata medik seperti kateter intravena. Alat dalam yang diserang adalah susunan saraf pusat,paru,jantung,& endokard,endovaskular,mata (biasanya dieminasi dari tempat lain), hati,lien,ginjal & lain-lain.

•    Diagnosis
Ditegakkan dengan menemukan elemen jamur / isolasi jamur dari bahan klinik. Secara umum pemeriksaan laboratorium kandidosis dilakukan dengan garam faal / KOH 10% yang bertujuan untuk menemukanelemen jamur dalam bahan klinik yang diduga terinfeksi. Untuk kandidosis superfisialis yang diperiksa adalah kulit & kuku,usapan kapas lidi pada lesi untuk kandidosis vagina & orofarings,tinja. Untuk kandidosis sistemik yang diperiksa adalah biopsi jaringan,darah,sputum,urin.

•    Pengobatan
Terbagi 2 yaitu pengobatan topikal dengan larutan,salep & krim serta pengobatan sistemik yang diberikan secara oral / inravena. Pengobatan topikal biasanya digunakan pada kandidosis superfisialis,namun pada infeksi suprfisialis kadang-kadang diperlukan pengobatan sistemik yang diberikan per oral.
Tujuan pengobatan kandidosis sistemik adalah untuk menyelamatkan jiwa (live saving). Pengobatan dilakukan dengan eradikasi memakai obat antifungal & penanganan faktor resiko.

•    Prognosis
Prognosis kandidosis superfisialis pada pasien imunokompeten cukup baik. Sedangkan pada penderita HIV/AIDS penggunaan obat antiretroviral menurunkan angka KOF secara bermakna.

DAFTAR PUSTAKA

•    Dorland, W.A.Newman.Kamus Kedokteran Dorland.Edisis 29.Jakarta : EGC.2002.
•    Staf pengajar Departemen Parasitologi FKUI.Parasitologi UI.edisi 4.2008.Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

Previous Next

Leave a Reply

Stop censorship