Fasilitas untuk Diabilitas

<a href=”http://www.kartunet.com/”><img src=”http://www.kartunet.com/images/blogging-kartunet.jpg” alt=”Kontes Blogging Kartunet Kampanye Aksesibilitas tanpa Batas” /></a>

Blog ini dibuat untuk mengikuti kontes di atas, yang di sponsori oleh http://www.kartunet.com dan http://www.xl.co.id.

Menurut saya, fasilitas publik di sekitar masih jauh dari nyaman. Saya saja sebagai orang normal masih merasa kurang nyaman, namun karena kondisi keuangan yang harus mengirit, jadi yah terima, syukuri dan jalanin aja deh.

Cerita mengenai kisah abilitas akan diuraikan di bawah ini gambaran dimana saya menempatkan diri sebagai orang yang memiliki disabilitas. Hal ini terjadi berdasarkan kisah nyata beberapa  yang terjadi dalam sepengamatan dan sepenganalisis saya yang saya satukan menjadi kisah yang terpenggal-penggal, namun saya jadikan satu dalam satu tokoh.

Andai saya adalah orang yang mempunyai disabilitas yakni berjalan dengan menggunakan tongkat atau kaki palsu karena kaki saya yang hilang karena kecelakaan. Saya cenderung kesulitan terutama dalam menggunakan fasilitas publik.

Sedih rasanya saat mau naik kendaraan umum namun harus menaiki tangga yang cukup tinggi sambil mengejar bus yang terus melaju dengan cepat, sudah begitu, sayapun menikmati menaiki bus dengan bergelantungan sambil berdesakan.

Pilu banget saat memandang orang pada cuek atau kurang perduli pada mereka yang terlihat dengan pura-pura tidur saat beberapa penumpang sudah turun saat saya diminta masuk ke dalam oleh keneknya.

Hal inipun terjadi pada beberapa teman saya yang terkadang saya dapati senasib. Ternyata, ini ke tidaknyamanan ini bukan hanya dialami oleh kami yang memiliki disabilitas. Saya mendapati perempuan dan wanita hamil mesti turut jatuh ke segala arah saat bus mendadak mengerem atau karena ugal-ugalan.

Saya tersenyum melihat kondisi ini, kadang reaksinya ada yang lucu, ada yang berlebihan, saling mengekpresikan emosinya masing-masing secara bebas dan refleks.

Tak jarang pula, ada yang berpegangan pada saya karena kondisi diatas. Kondisi yang membuat saya khawatir pada diri, dan orang sekitar di dalam bus, terutama pada ibu hamil yang bisa keguguran karena kelelahan berdiri atau mengalami desakan atau emosi tertentu.

Saat hendak mau turun, saya pun kadang bingung karena harus meloncat dengan topangan tongkat atau kaki palsu. Namun, kekurangnyamanan ini harus saya hadapi setiap hari karena harus berangkat kerja untuk menafkahi keluarga yang membutuhkan banyak uang.

Namun, saya merasa senang saat diajak jalan-jalan mengelilingi Jakarta dengan menggunakan Taxi dan bus TransJakarta yang memprioritaskan saya untuk mendapatkan tempat duduk, walaupun saya sering merasa kasihan melihat mereka dipaksa berdiri, bahkan dengan wajah lelah menyilahkan saya duduk.

Sering juga sih, mendapatkan muka cemberut karena dipaksa oleh penjaga pintu bus TransJakarta untuk berdiri. Ada gurat ke tidak ikhlasan dalam dirinya. Namun saya Cuma berdoa, baik kepada yang ikhlas, dan juga yang cemberut, semoga kebaikan kalian dib alas oleh Allah SWT dengan rezeki atau kebaikan yang lain.

Suatu ketika, saya diajak jalan oleh teman naik kereta commuter line untuk menemaninya belanja ke pasar Tanah Abang. Ajakanpun saya terima, kebetulan saya sedang libur dan merasa jenuh karena harus diam saja di rumah.

Saya dan teman, berjalan menuju stasiun depok lama dengan berjalan melalui pasar yang kenapa jauh sekali? Serta kenapa tidak ada kendaraan khusus ke dalam sana? Apakah tidak ada yang murah-meriah?

Sampai di stasiun, saya menunggu teman yang sedang mengantri panjang karena harus mengantri membeli tiket di bawah plang stasiun. Saya pun protes, kalau saya ikut mengantri pasti merasa lelah, belum lagi saat menunggu kereta.

Saat masuk keretapun, ternyata penuh, dan kami harus berdiri sampai stasiun Tanah Abang karena jarang sekali yang turun di stasiun yang dilewati oleh kereta kami.

Saya mencintai semua fasilitas dan semua organisasi yang mengaturnya. Andai saja, saya bisa mendapatkan fasilitas yang lebih cepat dan nyaman, maka rasanya pasti sangatlah menyenangkan seperti rasa senang yang sama pada semua kerabat saya yang normal.

Hal ini ternyata berhubungan dengan adanya sebuah email yang datang yang kebetulan masuk dan berhubungan dengan kisah dan keinginan di atas. Gambaran email yang telah masuk, seperti yang tergambar di bawah ini

Di dalam petisi tersebut, dituliskan suatu kisah yang berisi (https://www.change.org/id/petisi/pak-emirsyah-satar-hapuskan-surat-keterangan-bagi-penyandang-disabilitas#share) :

Kronologi rinci dari peristiwa sebelumnya:

Saya mencintai maskapai penerbangan negeri sendiri, Garuda Indonesia. Tapi apa yang saya terima saat beperjalanan sejak 2005, membuat saya kecewa dan harus bersuara keras. Agar penumpang lain, tak ikut dirugikan. Juga agar Garuda memperbaiki layanan ke penumpang, termasuk tidak mendiskriminasi penumpang dengan kebutuhan khusus seperti saya, pengguna kursi roda.

Rasa kecewa ini berawal saat saya berperjalanan 25 September 2011, Cengkareng – Makassar, GA610, Class Y, Seat 9D, boarding pukul 14:00 Wib. Dua hari sebelumnya saya menelpon layanan online GIA, memesan kursi di baris depan untuk memudahkan kaki kiri saya yang tak sampai ke lantai. Jawabannya “itu bisa dilakukan saat check in.”

Permintaan ini saya ulangi saat check in, 25 September. Dengan nada ketus petugas tak memenuhinya. Saat diminta menunggu di Help, saya dibiarkan lebih dari 30 menit. Beberapa petugas asik bergurau. ‘Kapan akan dilayani?’ tanya saya. ‘Tunggu ya bu, kami sedang sibuk.’

Karena terlalu lama, saya protes. Tapi diacuhkan. Mereka tetap asik bergurau dan sibuk dengan ponsel.  Hingga ada petugas menyodorkan surat keterangan penumpang sakit. Salah satu klausulnya, maskapai Garuda tak bertanggung jawab atas kejadian apapun, implikasinya tidak dilindungi oleh asuransi. Surat harus ditandatangani 4 rangkap berikut materai 6000 tetapi harus dibayar 10000. Saya menolak secara halus. Petugas bersikukuh sampai mengancam saya tidak diijinkan naik pesawat. Saya marah, menelpon Komnas HAM dan organisasi penyandang disabilitas. Mereka menguatkan saya bahwa isi surat bersifat diskriminatif.  Akhirnya saya dibolehkan berangkat tapi perlakuan petugas sangat tidak ramah.

Kekecewaan kedua dipicu perjalanan 28 Oktober 2011, tujuan Jogja – Cengkareng, GA217, Boarding 19:40, class Y, seat 5D. Saya menunggu kursi roda yang tak ada di pintu pesawat. Sebagai penerbangan malam, ternyata tidak ada Garda Barata saat mendarat. Awak pesawat tampak acuh saat lewati saya yang saat itu sudah menunggu kursi roda lebih dari 15 menit, semua penumpang turun dan pergi naik bis transit bandara.

Kekecewaan bertambah lagi saat berperjalanan 24 Mei 2012, dari ogja – Cengkareng, GA0213, Class Y, Seat 5E, boarding pukul 15:15 Wib.

Ketika check in di Jogjakarta, petugas saya anggap sudah mulai mengerti karena tak meminta saya untuk menandatangani surat sakit. “Apakah ada barang yang akan dimasukkan dalam bagasi?” Kebetulan saat itu tak ada. Petugas memberi tag number untuk kursi roda pribadi saya. Saya meminta petugas tersebut untuk memastikan kursi roda pribadi bisa saya gunakan sampai depan pintu pesawat, juga saat sampai di bandara tujuan. Petugas check in menjanjikan untuk mengirim telex ke cabin crew. Guna memastikan, kursi roda diberi 2 tags khusus yaitu ‘priority’ dan ‘executive class’. Koordinasi ground staff lancar hingga boarding.

Setelah duduk di kursi pesawat, saya kembali mengingatkan pada seorang pramugari yang saat itu bertugas (lagi lagi saya lupa untuk mengingat namanya). Saya berkata ‘tolong kursi roda pribadi saya siap didepan pintu pesawat ketika sudah mendarat’. Pramugari itu hanya berkata ‘ saya akan informasikan’ yang ternyata dia menginformasikan kepada ketua regu flight attendants. Saya mendengar apa yang diucapkan oleh kepala regu itu ‘terserah nanti pesawat parkirnya dimana, jika ada gardabarata mungkin bisa. Tetapi jika tidak, maka akan disiapkan mobil kecil’. Ucapan seperti itu sudah satu bentuk pelecehan verbal. Saat itu saya sudah merasa tersinggung. Dia menganggap kursi roda saya hanyalah barang pada umumnya. Padahal bagi saya, kursi roda yang saya gunakan adalah bagian dari anggota tubuh saya, bagian dari kaki saya dimana mobilitas saya sangat tergantung pada kursi roda ini.

Ketika pesawat mendarat, seluruh penumpang turun, tak satupun pramugari yang informasikan ke saya apakah kursi roda sudah siap atau belum. Bahkan cabin crew sudah bersiap meninggalkan pesawat. Saya berujar ‘saya masih disini, tolong ambilkan tas saya yang masih diatas, bagaimana dengan kursi roda saya?’. Sang kepala regu meminta pramugari mengambilkan. Pramugari lain mengatakan kursi roda sudah ada. ‘Apakah itu kursi roda saya?’ Lalu dijawab ‘saya tidak tahu, tapi ini sudah ada kursi rodanya’. Saya keluar. Tapi betapa kecewanya kursi roda maskapai yang disiapkan ternyata kondisinya sudah tidak layak. Saya protes ‘mengapa bukan kursi roda pribadi saya? Mana kursi roda saya?’ Petugas groundmengatakan ‘kursi roda ibu ada di bagasi’. ‘Loh kenapa di bagasi, bukankah saya sudah minta berkali kali agar kursi roda saya siap didepan pintu pesawat?’ kembali saya kecewa ketika ketua regu berkata ‘aturannya tidak boleh bu’. Mendengar itu, saya menanyakan ‘aturan darimana? Bagaimana jika kaki anda yang diperlakukan seperti ini?’ Dia malah berbalik tidak sopan dengan bahasa tubuh dan gerakan tangan yang seolah mengusir saya sambil berkata ‘silahkan ibu complain ke Garuda’. “Loh, bukankah anda dari Garuda?”

Saya mengalah, lalu menggunakan kursi roda tak layak pakai. Petugas ground yang saat itu membantu mengatakan bahwa lift tidak bisa digunakan karena sedang renovasi. Saya dibawa keluar melewati pintu keberangkatan dan kembali ke pintu kedatangan tapi dari arah berlawanan. Sesampainya di depan baggage claim, kursi roda saya ada di depan counter executive baggage. Setelah saya periksa, rem sebelah kiri saya bengkok! Ring salah satu roda besar saya juga banyak cacat goresan!

Saya membuat complain mengenai perlakuan kepala regu dan kerusakan kursi roda saya. Saya meminta untuk direspon oleh Garuda tidak lebih dari 24jam. Saat itu waktu menunjukan pukul 17:30, padahal pesawat landed pada pukul 16:40. Para petugas di counter claim tidak dapat menjanjikan apapun.

Cerita ini memang panjang. Tapi saya masih ingin mengemukakan kekecewaan yang terakhir. Hari itu, Jumat, tanggal 25 Mei 2012 pukul 14:06, saya ditelpon suami yang mengatakan bahwa ada petugas dari Garuda yang akan reparasi kursi roda. Petugas datang sendiri menggunakan motor, begitu katanya. Lalu saya bicara langsung dengan petugas tersebut lewat handphone suami. Cara bicara petugas terdengar tidak profesional; “Halo bu saya teknisi dari Garuda mau betulkan wheelchair ibu, kapan ibu tidak pake wheelchair-nya supaya bisa saya bawa untuk reparasi?” Saya menjawab “Mas, saya itu pengguna kursi roda. Saya berjalan memakai kursi roda. Jika mau bawa kursi roda saya lalu saya berjalan dan mobilitas saya pake apa? Kursi roda itu kaki saya, Mas, bukan barang yang bisa seenaknya dibongkar pasang.” Petugas itu balik bertanya “terus ibu maunya apa, solusinya gimana?” Saya jawab “Saya mau Garuda bertanggung jawab dengan mengembalikan kondisi kursi roda saya. Mas datang saja ke kantor saya untuk temui saya, lihat kondisinya, jika Mas sudah siap dengan tools-nya mungkin bisa dibetulkan di kantor saya”. Petugas itu kembali menyela “saya bukan teknisi wheelchair, Bu, saya teknisi koper”. Saya berkata “Loh, bagaimana ini, yang rusak kursi roda tetapi mengapa dikirim teknisi koper? Mas temui saya saja dulu di kantor, saya tunggu ya, alamatnya sudah saya SMS via handphone suami saya ini”.

Pukul 15:00 petugas yang mengaku teknisi dari Garuda itu datang ke kantor menemui saya. Petugas yang datang ternyata jauh dari dugaan saya bahwa petugas Garuda adalah orang yang berpenampilan sopan, rapi, bersih, dan berkata santun layaknya melayani pelanggan. Petugas hanya menggunakan kaos oblong lusuh, celana jeans lusuh dan sobek, beralas sandal, tidak mengenalkan diri, langsung berkata “Mana yang rusak, Bu?” Saya menunjukan bagian kursi roda yang rusak. Kembali dengan nada tak sopan, petugas berkata “Ini sih gampang aja, Bu, saya copot biar saya bawa ke sana, cuman kaya gini doang”. Saya berkata “Mas, berapa kali saya bilang, ini adalah bagian dari kaki saya, mana mungkin mas bisa seenaknya mengambil bagian ini begitu saja, kalau rem ini dilepas satu bahaya untuk saya.” Debat antara saya dan petugas memuncak, sampai dia berkata “Saya bukan orang Garuda, saya teknisi koper yang dikirim Garuda di bandara Cengkareng”. Mendengar itu saya memintanya kembali untuk menyampaikan pesan bahwa yang diperlukan adalah teknisi wheelchair bukan teknisi koper.

Pukul 15:36 saya menelepon claim counter bandara Cengkareng, saya bicara dengan petugas claim bernama Anna. Saya melaporkan kejadian dengan petugas teknisi Garuda yang baru saja terjadi. Anna meminta saya untuk berbicara langsung dengan supervisor-nya saat itu. Dia meminta saya untuk memutus telpon saya dulu dan dia akan telepon balik pada saya.

Anna berjanji akan menghubungi saya kembali untuk berbicara dengan supervisornya. Sampai hari Selasa tanggal 29 Mei 2012 pukul 14:30 ini saya tidak pernah dihubungi oleh pihak Garuda.

Yang kemudian diakhiri dengan adanya petisi seperti yang tergambar di bawah ini:

Previous Next

Leave a Reply

Stop censorship